Cadar, Bagian dari Operasionalisasi Patriarkal? Berikut Pandangan Direktur Dai Intelektual Nusantara Network

Jan 09, 2020 20:51
Ilustrasi perempuan bercadar. (Foto istimewa)
Ilustrasi perempuan bercadar. (Foto istimewa)

MALANGTIMES - Sebagian umat Islam menganggap bahwa memakai cadar itu wajib. Sementara sebagian yang lain menganggap cadar tak lebih daripada produk budaya Timur Tengah.

Cadar tak hanya menutupi seluruh anggota badan kecuali mata, melainkan juga menutupi lekuk tubuh perempuan.

Baca Juga : Fatwa MUI tentang Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim Terinfeksi Corona

Nah, terkadang, pakaian menutupi badan adalah bagian dari operasionalisasi patriarkal atau perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Direktur Dai Intelektual Nusantara Network (DINUN), Achmad Tohe MA PhD.

"Perempuan kadang-kadang disuruh ngapa-ngapain itu hanya untuk mengakomodasi keserakahan laki-laki," ucap Tohe saat ditemui di Universitas Islam Malang (UNISMA), Kamis sore (9/1/2020).

Soal aurat, yang kerap dibicarakan adalah soal menutupi sesuatu yang dianggap menggoda. Sementara, kata Tohe, pembahasan mengenai mendudukan mata laki-laki jarang sekali dibicarakkan.

"Harusnya berimbang, perempuan suruh nutupin laki-laki suruh nunduk," ujar Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Menundukkan pandangan sendiri tidak memungkinkan apabila dibuat gerakan formal. Menundukkan pandangan adalah gerakan kesadaran. Dilakukan supaya laki-laki mulai mengerti tentang gender.

"Bahwa selama ini kita diinstal oleh satu sistem peradaban besar yang disebut patriarki," timpalnya.

Masyarakat sudah tidak sadar mempunyai software (patriarki) ini. Mirisnya, perempuan yang sebenarnya selama ini selalu digambarkan sebagai korban bisa menjadi pendukung sistem patriarkal karena ketidaksadaran bahwa ada operasi besar bernama patriarki yang sedang berjalan dalam peradaban.

Baca Juga : MUI Anggap Kabupaten Malang Aman Wabah Corona, Salat Jumat Tetap Dijalankan

Mengurangi budaya patriarki sendiri tidak bisa dilakukan secara drastis. Namun masih dapat dilakukan dengan sedikit-sedikit.

"Supaya hubungan laki-laki dan perempuan terlaksana baik bukan hanya tugas perempuan, tugas laki-laki juga. Sementara ini yang diperlakukan untuk melakukan sesuatu kan perempuan," katanya.

Seperti apabila laki-laki tergoda melihat paha, maka pahalah yang wajib ditutupi. Apabila laki-laki tergoda melihat wajah perempuan, maka wajah perempuanlah yang ditutupi. Begitu seterusnya.

"Selama ini perempuan terus yang selalu diminta untuk melakukan sesuatu," pungkasnya.

Topik
MalangBerita Malangumat IslamcadarUniversitas Negeri Malangbudaya Timur TengahFakultas Sastra UMDirektur Dai Intelektual Nusantara Network

Berita Lainnya

Berita

Terbaru