Rektor UB, Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Rektor UB, Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pembangunan gedung baru Universitas Brawijaya (UB) Malang di Kepanjen masih belum bisa dilakukan. 

Salah satu alasannya, masih butuh tambahan lahan.

Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menyampaikan, UB butuh lahan seluas 100 hektare. Sementara yang diberi Pemkab hanya 30 hektare.

"Sedang diurus. Mestinya butuh 100 (hektare). Ini dikasih 30. Kita mintanya 200, harapan kita dikasi 100," ucapnya kepada MalangTIMES.

Kebutuhan luas lahan ini seiring dengan ambisi UB menjadi universitas kelas dunia, dimana standar luas kampus adalah 200 hektare.

Saat ini pihak UB sendiri masih terus melakukan kepengurusan penghibahan tanah dari Pemkab Malang tersebut.

"Belum pembangunan. Proses hibahnya belum," kata Nuhfil.

Untuk diketahui, kampus baru tersebut nantinya akan dihuni oleh seluruh fakultas yang ada di UB.

Lahan yang disiapkan untuk pembangunan kampus UB di Kepanjen itu sendiri merupakan lahan eks tanah bengkok di wilayah Kelurahan Kepanjen dan Cempokomulyo. 

"Kami punya lahan eks tanah bengkok dan kebetulan UB butuh bangun kampus di Kabupaten Malang. Karena itu, kami jemput bola waktu itu. Ini tentunya untuk masyarakat Kabupaten Malang juga nantinya," ujar Bupati Malang, Sanusi.

Walau masih butuh waktu panjang, lanjut Sanusi, yakni diperkirakan mencapai sekitar 3-4 tahun kampus UB berdiri di Kepanjen, Pemkab telah memulainya.

"Harapannya tahun ini perencanaan telah selesai semuanya," imbuh dia.

Berdirinya kampus UB kata Sanusi akan secara langsung berdampak pada perekonomian masyarakat sekitar, selain mampu memperkuat bidang kesehatan di Kabupaten Malang.