Jasmine Sefia Waynie (tengah kaus putih) saat menyambut kehadiran Bupati Malang HM Sanusi (berjabat tangan pakai peci) dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (kerudung putih) (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Jasmine Sefia Waynie (tengah kaus putih) saat menyambut kehadiran Bupati Malang HM Sanusi (berjabat tangan pakai peci) dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko (kerudung putih) (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Situasi tegang sempat mewarnai ruang keluarga tempat tinggal Dwi Cahyono, sesaat sebelum Bupati Malang HM Sanusi dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko, beserta rombongan diagendakan datang di rumah salah satu warga Dusun Krajan, Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang tersebut, Selasa (7/1/2019) siang.

Di hadapan wartawan MalangTIMES.com, pria yang akrab disapa Dwi ini berharap agar polemik yang dialami putri sulungnya bisa segera berakhir. ”Tahun ini (2020) saya sudah dikabari manager-nya untuk segera mempersiapkan Jasmine dalam ajang sepak bola wanita U-16 dan U-19. Tahun ini Indonesia dikabarkan akan jadi tuan rumah, dan Timnas (Tim Nasional) membutuhkan peran dari anak saya,” ucap Dwi sembari menunjukkan pesan WhatsApp sang manager kepada wartawan.

Seperti yang sudah diberitakan, Senin (6/1/2020) pihak keluarga Jasmine Sefia Waynie menggelar konferensi Pers di salah satu kafe yang ada di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang.

Melalui kuasa hukumnya, Bhakti Riza Hidayat mengaku sangat menyayangkan statement dari pihak Kepala Sekolah SMPN 2 Kota Batu, yang telah beranggapan jika pihak orang tua salah satu punggawa Timnas U-16 itu telah mengeksploitasi putrinya.

Padahal, sejak belia Jasmine memang sudah gemar berlatih sepak bola. Seiring berjalannya waktu, karir Jasmine semakin moncer dan sering diminta jasanya untuk membela Garuda Muda U-16.  Namun segudang prestasi tersebut justru disalah artikan dan dianggap telah mengeksploitasi anak di bawah umur.

”Dulu pas masih kelas 1 (VII SMP) tidak ada masalah, tapi pas kelas 2 (VIII SMP) Jasmine dianggap sering bolos dan akhirnya nilai rapotnya kosong. Padahal dispensasi-nya jelas, membela Timnas dan ada beberapa agenda resmi. Tapi prestasi yang sudah diperoleh putri saya justru dianggap tidak membawa nama baik sekolahan (SMPN 2 Kota Batu). Itu yang kami sayangkan,” keluh Dwi.

Terkait polemik tersebut, Dwi akhirnya memilih jalan tengah, yakni mengarahkan putri sulungnya agar pindah sekolah dari SMPN 2 Kota Batu ke SMPN 3 Kepanjen. ”Dulu anak saya ini diarahkan untuk sekolah di SMPN 2 Batu, ada suratnya. Di sana memang ada kelas khusus bagi para atlet, makanya saya sekolahkan di sana. Tapi karena ada polemik ini, akhirnya saya pindahkan saja ke SMP yang fasilitasnya memadai sekaligus dekat dari rumah (SMPN 3 Kepanjen),” tegas Dwi sembari mengatakan agar Jasmine lebih fokus untuk bersekolah sekaligus berlatih sepak bola.

Tidak lama setelah obrolan itu terjadi, sekitar pukul 12.30 WIB, Bupati Malang HM Sanusi dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko beserta rombongan tiba di kediaman keluarga Jasmine.

Para rombongan yang juga melibatkan Kajari Kota Batu, Kepala Sekolah dan guru SMPN 2 Batu, serta beberapa pejabat pemerintahan dari Kota Batu dan Kabupaten Malang, menyempatkan diri untuk berjabat tangan dan bertegur sapa dengan keluarga besar Jasmine.

”Solusinya ya tinggal dimutasi (dipindah sekolah). Tadi mintanya ke SMPN 3 Kepanjen, segera akan kita bantu. Mulai besok (Rabu 8/1/2020) sudah akan kita uruskan prosesnya (pindah sekolah),” kata Sanusi saat mengunjungi Jasmine di rumahnya.

Pejabat nomor satu di Kabupaten Malang ini, mengaku juga sudah mengisntruksikan beberapa dinas terkait agar segera merealisasi perpindahan Jasmine ke SMPN 3 Kepanjen.

”Sudah saya instruksikan agar segera melakukan proses perpindahan. Nanti segera dikomunikasikan antara Dinas Pendidikan (Kabupaten Malang) dan Kepala Sekolah SMPN 3 Kepanjen. Segera koordinasikan dan beri fasilitas, karena ini atlet berprestasi,” tegas Sanusi.

Terlepas dari proses perpindahan sekolah tersebut, Sanusi juga mewanti-wanti agar Jasmine bisa berprestasi tidak hanya di bidang non akademik saja. Melainkan prestasi di bidang akademik juga juga harus diperhatikan.

”Prestasi (sepak bola) harus baik, pendidikan (akademik) juga harus baik. Sehingga harus ada keseimbangan. Tapi prestasi di bidang olah raga juga harus di tingkatkan lagi, agar nantinya jadi orang bermanfaat, memberi banyak prestasi untuk Kabupaten Malang di kancah dunia,” tukas Sanusi.

Ditemui di saat bersamaan, Bhakti Riza Hidayat selaku kuasa hukum Jasmine, mengaku sangat mengapresiasi kepedulian pemerintah Kabupaten Malang dan Kota Batu terhadap masa depan Jasmine.

”Pihak keluarga hanya berharap agar permasalahan Jasmine ini segera berakhir. Semoga proses perpindahan sekolahnya bisa lancar, sehingga Jasmine bisa melanjutkan pendidikannya sekaligus prestasi sepak bolanya,” pungkasnya.