Suasana pembelajaran kejujuran dengan pengolahan sampah di eks TPA Lowokdoro Kota Malang, Selasa (7/1). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana pembelajaran kejujuran dengan pengolahan sampah di eks TPA Lowokdoro Kota Malang, Selasa (7/1). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Sosok Seladi cukup dikenal luas, terutama pegiat lingkungan. Mantan polisi lalu lintas Kota Malang berpangkat Bripka ini sebelumnya pernah viral lantaran memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemulung sampah.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Meski sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai salah satu anggota kepolisian Polres Malang Kota, sosoknya yang telah di kenal di seluruh pelosok negeri ini tak pernah surut. Kesehariannya, ia terus melakukan aktivitas sebagai pengepul sampah dan melakukan pengelolaan sampah.

Dia dikenal pula sebagai sosok pria yang selama bertugas sebagai Satlantas selalu jujur dan anti suap, ia kerap menjadi jujugan siswa-siswi sekolah untuk belajar mengenai perilaku jujur.

Lalu, seperti apa yang ia ajarkan kepada para siswa sekolah tentang konsep kejujuran dalam kehidupan itu?

Ditemui MalangTIMES di sela aktivitasnya di kawasan eks Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lowokdoro, Kota Malang, Seladi dengan senyum ramahnya menjelaskan kegiatan yang tengah ia lakukan. Ia tengah bersama puluhan siswa SMA dari salah satu sekolah dari Yogyakarta yang sedang belajar di tempatnya.

"Kali ini ada adik-adik yang dikirim dari Yogyakarta ke tempat pemulungan sampah. Mereka di sini belajar tentang kehidupan, dididik mentalnya supaya kuat," ungkapnya, Selasa (7/1).

Sebanyak 30 siswa ini dibagi tiga kelompok olehnya. Mereka melakukan kegiatan pengolahan sampah. Mulai dari memilah sampah plastik, mengemas sampah, hingga mencari sampah.

Pembelajaran itu dibagi rata. Selama kurang lebih satu minggu ke depan, para siswa tersebut benar-benar diuji mentalnya. Menurutnya, siswa harus bisa memahami bagaimana kehidupan rakyat kecil.

"Kegiatannya mulai jam 07.00 pagi setelah sarapan saya ajari untuk pilah-pilah sampah sampai jam 4 sore. Setelah itu mereka nggak boleh kemana-mana, tidurpun di sini di gubuk-gubuk beralas seadanya. Ya pakai tikar atau kardus, tanpa HP. Biar mereka tahu kehidupan rakyat kecil," imbuhnya.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

Siswa pun memilah sampah-sampah yang masuk kategori layak jual. Misalnya plastik, botol mineral, dan aluminium kalengan. Dari situ, para siswa diminta untuk mengumpulkan barang-barang tersebut untuk selanjutnya dipisahkan sesuai kategorinya. 

Nantinya, dari kegiatan ini diharapkan ketika siswa pulang ke kampung halamannya bisa menularkan pengalaman itu kepada masyarakat di sekitarnya.

"Jadi kalau sudah dipilah, saya minta mereka untuk ngepak (mengemas). Kan beda-beda, plastik sendiri, botol air mineral sendiri. Sehingga mereka bisa mendalami mana sampah yang bisa laku untuk dijual dan tidak untuk nanti ditularkan kepada masyarakat di lingkungannya," jelasnya.

Dari situlah, siswa dilatih kesabaran dan kejujuran. Yakni, dengan melakukan pemilahan sampah apakah sesuai dengan kategori atau hanya asal-asalan. Kemudian, melatih kesabaran mereka dengan berkecimpung di tempat penuh sampah yang sudah tentu memunculkan bau tidak sedap selama satu minggu ini.

"Contoh, barang yang harus dipilah kan jangan sampai dibuang. Di sini mereka belajar jujur, jangan mau cepatnya saja, tapi bagaimana memilah dengan benar. Yang malas dan tidak akan terlihat. Mental, menghadapi begitu banyak sampah penuh lalat, bau menyengat kuat tidak. Kalau kuat, semuanya akan berjalan lancar, kesabaran dan kejujuran itu berhasil," pungkasnya.

Sementara itu, salah satu peserta Michael Juan Sebastian mengaku keberadaannya ikut pembelajaran itu sebagai salah satu bentuk untuk merasakan bagaimana jerih payah masyarakat kecil. Meskipun, ia juga merasa risih dan tidak nafsu makan karena harus berkecimpung dengan tumpukan sampah.

"Rasanya banyak, sedih, pingin cepat-cepat pulang, nggak nafsu makan, nggak bisa tidur dan mau muntah juga. Tapi dengan ini kami jadi merasakan jerih payah orang-orang untuk bertahan hidup dari mulung sampah. Bau, kesabaran memilah, banyak kotoran. Apalagi untungnya jual ini nggak seberapa, kalau mau bertahan hidup ya kita harus rajin," ungkapnya.