Landing paralayang di Lapangan Songgomaruto di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Landing paralayang di Lapangan Songgomaruto di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES -  Pemkot Batu gagal merealisasikan pelebaran tempat pendaratan (landing) paralayang Songgomaruto di Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, pada 2019. Karena itu, pelebaran tersebut  menjadi PR (pekerjaan rumah) Dinas Pariwisata  Pemkot Batu tahun 2020.

Pelebaran terkendala  lantaran lahan milik warga. Aset warga yang menjadi kendala itu adalah tiga lahan.  “Padahal perencanaan ini sudah sampai tahapan pengkajian. Sayang sejauh ini masih terkendala  tiga lahan milik warga sekitar,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono. 

Ia menambahkan, kajian ini melibatkan Dinas Pariwisata Kota Batu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu, dan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Pelebaran itu diharapkan bisa terealisasi pada tahun 2020.

Landing itu dilebarkan untuk memenuhi syarat sesuai dengan standar internasional. Apalagi, paralayang adalah salah satu cabang olahraga (cabor) potensial di Kota Batu.

Untuk memenuhi standar internasional, landing paralayang harus dilebarkan seluas 100 x 100 meter persegi. Hingga saat ini, luas landing paralayang hanya separo dari rencana pelebaran.

“Rencanamya tukar guling tanah milik warga luasnya sekitar 4.540 meter persegi.  Tidak hanya milik warga saja, tapi Pemkot Batu akan melakukan tukar guling lahan di sekitar lokasi landing paralayang milik Islamic Boarding School Al Izzah sekitar 11.730 meter persegi,” imbuh Imam. 

Tidak hanya itu. Untuk mewujudkan landing berstandar internasional, beberapa fasilitas juga harus dipenuhi. Yakni membangun area parkir dan rest area seluas 5.488 meter persegi. “Untuk menunjang kedua fasilitas itu, pembangunan area parkir dan rest area menggunakan aset pemkot,” tutup Imam.