Tarif Iuran BPJS Kesehatan Naik, Lebih dari 2 Ribu Warga Malang Turun Kelas

Jan 03, 2020 16:05
Warga saat mengantre untuk mengurus pergantian kelas BPJS Kesehatan di Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Warga saat mengantre untuk mengurus pergantian kelas BPJS Kesehatan di Kota Malang (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keputusan pemerintah pusat memberlakukan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan hingga 100 persen bagi peserta mandiri sejak 1 Januari 2020 memberikan dampak bagi pengguna jaminan kesehatan nasional (JKN) itu.

Pasalnya, iuran peserta BPJS Kesehatan dianggap terlalu tinggi. Dampaknya, banyak masyarakat yang akhirnya memilih untuk turun kelas.

Baca Juga : Sudah Diwajibkan, Pemerintah Kabupaten Malang Bakal Bagikan 120 Ribu Masker ke Masyarakat

Seperti yang diungkapkan oleh seorang warga, Ika Setiawati yang memilih mengurus penurunan kelas untuk BPJS Kesehatan untuk orang tuanya dari kelas II ke kelas III. Alasannya, tarif iuran yang ditetapkan pemerintah dianggap terlalu berat. Belum lagi, ia juga harus memenuhi kebutuhan kesehariannya yang lain.

"Iya, ini tadi mengurus penurunan kelas. Ya, berat ya harga segitu naiknya kan 100 persen. Belum untuk kebutuhan lainnya," ungkapnya.

Untuk diketahui, iuran peserta BPJS Kesehatan per 1 Januari 2020 kelas mandiri I naik dari Rp 80 ribu menjadi Rp160 ribu per peserta per bulan. Kemudian, peserta kelas mandiri II, naik dari Rp 51 ribu menjadi Rp 110 ribu per peserta per bulan dan kelas mandiri III dari Rp 25.500 menjadi Rp 42 ribu per peserta per bulan.

Pejabat Penanggungjawab Sementara (PPS) Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Chandra Jaya menyatakan, memang dengan adanya pemberlakuan Perpres nomor 75 tahun 2019 tentang Penyesuaian Iuran JKN-KIS banyak peserta yang memilih turun kelas.

Penurunan tersebut di wilayah Kantor Cabang Malang sudah berlangsung sejak Desember 2019. Totalnya, baik yang melakukan kenaikan dan penuruan kelas sebanyak 2.422 peserta. Dimana paling banyak diikuti yakni, penurunan peserta dari kelas II menjadi kelas III sebanyak 1.569.

"Sejak pemberlakuan Perpres 75 memang banyak warga yang beralih kelas sejak Desember 2019 lalu. Kalau animo peserta sebetulnya tidak hanya turun kelas I ke III, tapi dari data yang ada, peserta juga ada yang memilih naik dari kelas III ke kelas I," jelasnya, ditemui awak media, Jumat (3/12).

Baca Juga : Pasien Covid-19 di Jombang Seorang Dokter, Ada 80 Orang Berpotensi Tertular

Rinciannya, selama Desember 2019 untuk penurunan kelas I menjadi kelas II sebanyak 333 peserta. Kemudian, kelas I ke kelas III 505 peserta, kelas II ke kelas III 1.569. Sedangkan untuk kenaikan kelas, dari kelas II ke kelas I sebanyak 8 peserta, kelas III ke kelas I sebanyak 1 peserta, dan kelas III ke kelas II ada 6 peserta.

Dari penurunan kelas itu memang kebanyakan dilakukan oleh warga yang merasa kurang mampu membayar tarif iuran baru. Meski begitu, pria yang juga menjabat sebagai Asisten Deputi Bidang Perencanaan Keuangan dan Manajemen Resiko BPJS Kesehatan Jawa Timur ini memastikan tidak ada perbedaan layanan kesehatan bagi peserta pendaftar di semua kelas baik kelas I, II, maupun III. Adapun yang berbeda itu hanya terkait pelayanan kamar ketika peserta menjalani rawat inap.

"Kalau penurunan kelas itu, sebenarnya kita melihat ada beberapa peserta yang kurang mampu dengan besaran yang ada saat ini. Jadi skemanya diturunkan. Bagi peserta mandiri yang berasal dari warga tidak mampu, kami mendorong pemerintah daerah agar mendaftarkan yang bersangkutan menjadi peserta penerima bantuan iuran (PBI)," pungkasnya.

Topik
MalangBeritaMalangIuran BPJS Kesehatan naikBPJS Kesehatan Cabang MalangChandra Jaya
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru