Kika: Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni, Kepala BPNB DIY Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum, Kasi Pengelolaan Barang Bukti Kejari Malang KN Kusuma SH, dan Kepala Bakesbangpol Kota Malang Zulkifli Amrizal saat memberi materi (Istimewa).
Kika: Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni, Kepala BPNB DIY Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum, Kasi Pengelolaan Barang Bukti Kejari Malang KN Kusuma SH, dan Kepala Bakesbangpol Kota Malang Zulkifli Amrizal saat memberi materi (Istimewa).

MALANGTIMES - Jumlah paguyuban penghayat kepercayaan di Kota Malang terbilang banyak. Sampai Desember 2019, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang mencatat ada 19 paguyuban penghayat yang aktif bergerak.

Namun dari jumlah tersebut baru sembilan paguyuban yang telah memenuhi dokumen administrasi sebagaimana ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.

Untuk meningkatkan kapasitas serta memfasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan, Disbudpar Kota Malang pun mengajak perwakilan paguyuban penghayat kepercayaan dan beberapa seniman dan budayawan untuk belajar langsung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pasalnya, DIY merupakan daerah dengan Indeks Pembangunan Kebudayaan tertinggi di Indonesia yang diharapkan mampu untuk ditiru Kota Malang.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Malang, Achmad Supriadi menyampaikan, kegiatan peningkatan kapasitas dan fasilitasi paguyuban penghayat kepercayaan dan seniman serta budayawan tersebut dilaksanakan pada 26 hingga 28 Desember 2019. 

Kegiatan tersebut mengajak sekitar 15 orang penghayat kepercayaan yang berada di bawah binaan Majelis Luhur Keprcayaan Indonesia (MLKI) dan beberapa perwakilan seniman dan budayawan.

"Kegiatan dimulai dengan sarasehan yang dilaksanakan pada 26 Desember 2019 bertempat di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY," katanya pada MalangTIMES.

Selain 15 perwakilan penghayat kepercayaan dan beberapa perwakilan seniman serta budayawan dari Kota Malang, sarasehan yang mengangkat tema Pengelolaan Organisasi Penghayat dan Perkawinan Antar Penghayat itu juga dihadiri sekitar 60 perwakilan penghayat kepercayaan dari DIY.

Penyampaian materi oleh Ketua Paguyuban Sumarah DIY, Kuswijoyo Mulyo (Istimewa)

Dijelaskan, kegiatan fasilitasi di hari pertama atau 26 Desember 2019 tersebut menghadirkan pemateri, yaitu Bambang Purnomo selaku Ketua Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) DIY dan Kasi Pengelolaan Barang Bukti Kejaksaan Negeri Malang KN Kusuma SH.

Selanjutnya yang didapuk sebagai keynote speaker adalah Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Dra. Dwi Ratna Nurhajarini, M.Hum dan Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni.

Selanjutnya, turut hadir dalam sarasehan tersebut adalah Presidium 2 MLKI Kota Malang, Sudarsono dan Presidium 3 MLKI Kota Malang, Sueb. Suasana sarasehan pun berlangsung sangat hidup dengan sederet pertanyaan yang disampaikan selama proses sarasehan berlangsung.

"Selama diskusi berlangsung, antar perwakilan MLKI lebih banyak menanyakan tentang keorganisasian paguyuban. Mengingat DIY mempunyai indeks pembangunan kebudayaan tertinggi secara nasional," jelas Priadi.

Lebih jauh pria berkacamata ini menyampaikan, kegiatan peningkatan kapasitas kebudayaan yang melibatkan perwakilan paguyuban penganut kepercayaan dan unsur seniman serta budayawan berlanjut di hari ke dua, tepatnya Jumat (28/12/2019). Di hari ke dua, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Kebudayaan DIY.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho turut hadir didampingi Kepala Seksi Seni Tradisi Dinas Kebudayaan DIY Danang Sujarwo. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho memberikan pemaparan dan materi seputar pengembangan budaya di DIY. Sehingga DIY ditetapkan dengan indeks pembangunan kebudayaan tertinggi di Indonesia.

"Dalam kesempatan itu saya pun bertanya tentang tips untuk meraih indeks pembangunan kebudayaan tertinggi seperti yang diperoleh DIY," tambahnya.

Kegiatan diskusi pun kembali berlanjut di hari ke dua tersebut. Diantaranya dengan menghadirkan beberapa pemateri, yaitu Kasi Pengelolaan Barang Bukti Kejaksaan Negeri Malang KN Kusuma SH, Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara Kejaksaan Negeri Malang Dian Purnama, serta Staff Intelejen Kejaksaan Negeri Malang Kusumandoko. Narasumber selanjutnya adalah Kepala Bakesbangpol Kota Malang Zulkifli Amrizal.

Seluruh pemateri menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan dasar hukum hingga hak dan kewajiban penganut penghayat kepercayaan. Diantaranya membahas bagaimana melaksanakan kegiatan yang benar dan sesuai prosedural yang baik dalam melakukan pembinaan terhadap penghayat kepercayaan dan seniman.

Usai melakukan kegiatan kunjungan kerja, rombongan melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi Paguyuban Sumarah, sebagai salah satu paguyuban penghayat kepada Tuhan Yang Maha Esa terbesar di Indonesia. Di sana rombongan juga melakukan kegiatan sharing terkait pengelolaan paguyuban yang baik dan benar.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Paguyuban Sumarah, Kuswijoyo Mulyo menerima langsung rombongan dari Kota Malang. Selain perwakilan paguyuban penghayat dan perwakilan budayawan dari Kota Malang, turut hadir dalam kegiatan sharing tersebut sebanyak 60 orang dari perwakilan Paguyuban Sumarah. Meski suasana hujan deras menyelimuti kegiatan hari itu, namun sharing dan diskusi berjalan khidmat dan guyub rukun.