Sosiolog UB Dr Ali Maksum MAg MSi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Sosiolog UB Dr Ali Maksum MAg MSi. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setara Institut selama Februari sampai April 2019 terhadap 10 PTN di Indonesia, ditemukan masih banyak wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif. 

Kesepuluh PTN yang terpapar radikalisme keagamaan itu ialah Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Mataram.

Dalam daftar tersebut, terdapat satu universitas dari Malang, yakni Universitas Brawijaya (UB). Sosiolog UB Dr Ali Maksum MAg MSi menegaskan, sangatlah tidak mungkin jika UB terpapar radikalisme secara terstruktur yang diciptakan oleh proses pembelajaran.

"Itu sangat tidak mungkin," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB tersebut kepada MalangTIMES, Senin (30/12/2019).

Namun, ia tak mengelak akan adanya warga kampus UB yang terpapar radikalisme. Hanya saja, jumlahnya sangat sedikit.

"Saya tidak tahu ada berapa persen. Tapi sangat sedikit, sangat minoritas," ucapnya.

Dan sifatnya, kata Ali, belum sampai pada aksi-aksi yang mengganggu. Misalnya sampai tidak mentaati aturan atau imbauan yang sifatnya akademik.

Ali menjelaskan, kalaupun ada yang terpengaruh ataupun terpapar radikalisme, itu bukan dari proses pembelajaran dan pendidikan yang ada di lingkungan kampus.

"Karena dosen-dosen agama yang ada di sini itu semua sudah terseleksi dengan baik. Jelas backgroundnya. Jadi tidak mungkin pemahaman mereka itu didapat dari proses pembelajaran di dalam kampus," tegasnya.

"Tapi kalau dari luar itu sangat mungkin karena interaksi sangat terbuka dan media media sangat terbuka dan sebagainya," lanjutnya.

Sementara, kurikulum untuk mahasiswa sendiri sudah melalui proses workshop kurikulum. Lalu Rencana Pembelajaran Semester (RPS)nya juga semua dimusyawarahkan. Jadi tidak hanya digarap oleh 1 dosen saja. Namun itu sudah dilakukan pemeriksaan oleh tim.

"Jadi sangat tidak mungkin adanya tuduhan bahwa di UB terpapar radikalisme itu secara terstruktur itu diciptakan oleh proses pembelajaran, itu tidak," tandasnya.