Pemakaman Kasin, salah satu makam yang dikelola Pemkot (Doc MalangTIMES)
Pemakaman Kasin, salah satu makam yang dikelola Pemkot (Doc MalangTIMES)

MALANGTIMES - Beberapa waktu lalu, saat reses dari salah seorang anggota DPRD Kota Malang (21/12/2019) di Merjosari, Lowokwaru, yakni Jose Rizal Joesoef, salah seorang warga bernama Yuni Ektanto mengeluhkan jika dalam proses pemakaman masih adanya pungutan yang cukup besar. Nilainya berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 3 juta.

Menanggapi hal itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Pemakaman Umum (UPT PPU) Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Malang, Takroni Akbar menampik kabar tersebut.

Dia menegaskan, jika di sembilan pemakaman yang dikelola oleh Pemkot Malang, pihak UPT PPU tak pernah melakukan pungutan atau menjual lahan makam.

"Mungkin yang bersangkutan membayarnya ke kordinator penjual jasa tukang gali yang di luar dari institusi kami. Di UPT PPU kami ada kordinator sendiri. Teman-teman sudah saya imbau untuk menghindari hal itu (pungutan) karena itu kan juga menyangkut nasib mereka, sangat rawan. Kalau mereka kena masalah hukum malah rugi sendiri," jelasnya saat ditemui di kantornya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, jika menurutnya mahalnya biaya hingga Rp 3 juta tersebut karena memang dari pihak ahli waris memasrahkan semua proses pemakaman kepada penjual jasa pemakaman. Sehingga dari situ, pihak ahli waris hanya tinggal mengetahui semua beres dan segala kebutuhan pemakaman seperti nisan, papan dan lainnya sudah disiapkan.

"Kalau itu mungkin saja lengkap sama tendanya, sama sound sistemnya, nisan, ongkos gali dan papannya. Kalau misalnya tidak memakai apa-apa dan biasa saja yang mungkin Rp 1,5 juta sudah bisa, dapat nissan sama papan serta ongkos gali tukangnya," ungkapnya

Selain itu, jika ingin membawa tukang gali kubur sendiri, pihaknya tidak melarang. Sebab, hal tersebut tentunya akan semakin menghemat biaya pemakaman yang dikeluarkan. Ketika terdapat orang yang meninggal, pihaknya selalu menyampaikan hal tersebut.

"Kalau bawa tukang gali sendiri silahkan, semuanya gratis. Tapi kalau tidak ada, maka kita hanya memfasilitasi mempertemukan dengan penjual jasa. Nah mengenai harga, tergantung kesepakatan mereka," jelasnya

"Kalau penggalian kan juga menyesuaikan dengan titik air. Sebab tanah seperti di Makam Samaan kan keras, sehingga untuk menggalinya perlu air dan tenaga, nah penggalian itu yang cukup berat saya sendiri andai dibayar Rp 5 juta juga nggak sanggup," imbuh Takroni.

Ia melanjutkan, memang sebenarnya proses penggalian  masuk dalam tugas dan fungsi. Namun untuk melakukan hal itu, pihaknya terkendala dengan keterbatasan personil.

Seperti halnya di Makam Samaan hanya memiliki empat orang personel yang harus menjaga dan merawat  makam yang cukup luas. Empat personel tersebut satu untuk administrasi dan yang tiga untuk pemeliharaan fasum. Kemudian di Makam Kasin hanya terdapat tiga personel. Sedangkan di makam lain hanya terdapat dua personel.

"Bisa dibayangkan. Makanya perlu penambahan SDM di masing-masing TPU. Sehingga kalau untuk melakukan penggalian nggak mampu tenaganya terbatas sekali. Apalagi proses pemakaman malam hari, sedangkan jam dinas kita hanya sampai sore. Otomatis, kalau kita tidak menggunakan penjual jasa tadi ya sulit, kecuali mereka bawa tukang gali sendiri," paparnya

Terakhir pihaknya kembali menegaskan, jika di UPT PPU, tidak ada yang melakukan pungutan liar atau menjual tanah kavling makam yang dikelola oleh Pemkot Malang. "Kami juga minta maaf pada masyarakat karena memang belum bisa memaksimalkan pelayanan penggalian karena minimnya tenaga. Idealnya satu lubang butuh lima orang dengan waktu dua jam," pungkasnya