Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

MALANGTIMES - Percakapan 

*dd nana

-di tepi

Kita, akhirnya saling berbicara

Kau yang purba dan aku yang berumur menggapai senja.

Dialog tepi yang masih saja kelam

tanpa riak, tanpa alun

hanya debar yang debur dalam sepasang mata

kita yang saling menatap.

Aku meminta percakapan hangat

tapi kau masih saja menyeret masa lalu

Purba yang menyakitkan dadaku yang terbuka.

Sakit, ucapmu, adalah cerita abadi setiap pencari

sepertimu yang tak seharusnya menunggu

karena kau meminta titik yang tak
dan kau tahu itu.

Di meja, tanganku tertangkup dan masih memandangmu

Tangan-tangan hujan mencoba melukiskan sesuatu di tubuhnya
yang tak pernah aku fahami sampai kini.

Pengetahuan, ucapku, kerap membodohiku

maka aku menunggu percakapan ini, denganmu

yang rela meremukkan raga untuk sebuah hidangan

untuk memberikan rasa hangat yang getir, rasa pahit yang dicari.

Bukankah setiap kita akan meminta titik pada waktunya ?

Parasmu mulai beriak walau senyap masih kau tangkupkan

pada kepurbaan hitam yang kau seret di tubuh waktu.

Apakah kau mencintaiku? tanyamu serupa gerimis

Aku yang kikuk hanya mengangguk.

Cinta, ucapmu, serupa bebiji kopi yang dilegamkan hitam

sebelum ditumbuk dan dihancurkan menjadi bubuk

dididihkan panas air mata. 

Dan hanya yang purba yang kuat menanggungnya

Kau, tuan, hanya punya usia sedepa.

Apakah kau mencintaiku, tanyaku di tepi umur

gerimis yang mulai menguap dan menjelma dingin yang menyusup.

Kau, dengan mata sempurna itu menatapku dan berkata

"Tak cukupkah aku menjadi rasa hangatmu. Jangan meminta yang tak bisa kau rawat, tuan," bisikmu.

- di tengah siang hari

Matahari merayakan sesuatu

di kepalaku yang dihuni para hewan yang tak

pernah dilukiskan dalam buku pelajaran dan tayangan

televisi manapun.

Piaraan di kepalaku menari-nari

sampai batas tepi mereka gerah dan mendobrak 

kulit kepalaku, berhamburan menuju jalanan

berlomba kecepatan dengan berbagai kendaraan.

Dan aku sang tuan hanya mampu melihat itu semua

Dengan tubuh terbakar dan rasa penyesalan yang bukan 

dosa. Hanya penyesalan.

Bahwa segala yang berbiak di kepalaku akhirnya tak jadi

tugu hidupku. 

Mereka bergeletakan dihajar kenyataan di jalanan yang punya ceritanya sendiri.

yang tak bisa aku nisankan, tak bisa jadi kisah di tepi senja usia.

*hanya penikmat kopi lokal