(paling kanan) Profesor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi UB, Dr Drs Mochammad Al Musadieq BBA MBA. (Foto: istimewa)
(paling kanan) Profesor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi UB, Dr Drs Mochammad Al Musadieq BBA MBA. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Dalam kajian Manajemen Sumberdaya Manusia Internasional, terdapat tiga macam tipe karyawan. Yaitu karyawan ekspatriat, karyawan lokal, dan karyawan dari negara ketiga.

Karyawan ekspatriat adalah karyawan yang berasal dari kantor pusat, yang biasanya ditugasi untuk memimpin cabang perusahaan di luar negeri. 

Baca Juga : Tatkala Tiba-tiba Ada Orang Kejang di Kampus UIN Malang

Karyawan lokal adalah karyawan yang berasal dari negara tuan rumah. Sementara karyawan dari negara ketiga adalah karyawan yang bukan berasal dari negara tuan rumah dan bukan berasal dari kantor pusat. 

Profesor di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi Universitas Brawijaya (UB), Dr Drs Mochammad Al Musadieq BBA MBA mengangkat fenomena kepemimpinan ekspatriat ini dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan profesor di gedung Widyaloka, Rabu (18/12/2019).

Ia menyampaikan, menjadi ekspatriat dengan memimpin suatu cabang perusahaan di luar negeri adalah suatu peluang sekaligus tantangan.

"Tidak banyak perusahaan yang memberikan program latihan yang intensif meliputi jangka waktu bulanan kepada eksekutifnya yang akan bertugas ke luar negeri. Malah tidak sedikit yang hanya membekali mereka dengan brosur-brosur," beber dosen Fakultas Ilmu Administrasi UB tersebut.

Maka kapasitas sang manajer menjadi penting. Manajemen adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang-ke-orang dan lebih merupakan suatu proses yang manusiawi daripada proses teknis. Untuk orang yang berbeda manajemen yang dilaksanakan akan berbeda pula.

"Misalnya, manajemen yang cocok untuk orang Jepang berbeda dengan manajemen yang cocok untuk orang Amerika, hal ini tidak dapat dihindari," jelasnya.

Perkembangan manajemen, kata Musadieq, harus memperhitungkan perbedaan-perbedaan ini.

Baca Juga : Dokter UIN Malang Luruskan Cara Berpikir Masyarakat soal Pencegahan Virus Corona

"Kalau tidak maka manajemen tersebut akan menjadi tidak relevan bagi kelompok pemakainya. Perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh aspek budaya," timpalnya.

Selain faktor kapasitas sang manajer, salah satu alasan kegagalan ekspatriat adalah karena kegagalan keluarganya dalam beradaptasi.

"Maka perusahaan yang bijaksana mengikutsertakan keluarga ekspatriat sebagai peserta latihan," imbuh profesor ke 259 yang telah dikukuhkan UB tersebut.