Ilustrasi UN (Kartun Martono wordpress)
Ilustrasi UN (Kartun Martono wordpress)

MALANGTIMES - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim telah mencanangkan program Merdeka Belajar. Salah satunya, adalah menghapus ujian nasional sebagai syarat penentuan kelulusan yang akan dimulai di tahun 2021.

Program Nadiem pun disambut dengan pro dan kontra berbagai kalangan. Walau kebijakan itu juga merupakan ide yang berawal dari adanya keresahan setiap tahun para siswa, orang tua, dan juga guru.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Hal ini terlihat dengan banyaknya suara masuk dari para pelajar menyikapi satu kebijakan Merdeka Belajar Nadiem yang terdiri dari penilaian ujian sekolah berbasis nasional (USBN) secara komprehensif, perubahan sistem UN, penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan penerapan sistem zonasi yang lebih fleksibel.

Melalui media sosial (medsos) Instagram, curhatan para pelajar di sampaikan. Plus adanya semacam 'tantangan' dari salah satu acara televisi swasta terkait hal itu.

"Dicari dedek-dedek yang berani berbagi cerita perjuangan menghadapi ujian nasional. Tulis ceritamu yang mengharu biru di kolom komentar..." tulis akun Instagram matanajwa, Selasa (17/12/2019).

Tak butuh lama, berbagai curhatan pun mengalir terkait hal itu dari para pelajar. Khususnya mengenai perjuangan menghadapi ujian nasional dengan segala pengorbanan yang menyertainya.

Seperti akun David Christianta dari SMAN 1 Depok yang menyatakan, setelah berjuang keras menghadapi ujian dengan mengorbankan waktu istirahat dan jatuh bangun mengikuti simulasi berulang kali.

"...pada hari pengumuman rupanya NUNku tak sesuai ekspektasiku...menurutku kesuksesan dan pemahaman siswa bukan didasarkan pada ujian di atas kertas ataupun mengklik di komputer belaka, melainkan berbicara mengenai proses panjang yang terjadi. Penilaian harusnya bukan dilaksanakan dengan cara tersebut, melainkan bisa dilakukan secara komprehensif dari awal hingga akhir..." tulis @davidchristianta, Selasa (17/12/2019).

Akun lainnya fatharanihsn dari sekolah Ma'had Darul Arqom kelas 10 menuliskan pengalamannya. "...UN itu adalah sebuah beban yang berat, belajar semaleman dan soal ujian ga ada yang sesuai. Apalagi di sekolah-sekolah yang pelosok akses untuk belajar terkadang sulit. Berbagai pihak juga selalu menekankan dengan nilai yang harus besar, seakan-akan nilai adalah segalanya.." tulisnya.

Akun wrsrkst walau bukan lagi pelajar ikut juga memberikan pengalamannya. Dimana dirinya menyampaikan UN merupakan list ke-3 saat dirinya sekolah dulu. "UN itu ada di list ketiga ujian terpenting sekolah. UTBK pertama...lalu USBN...ketiga UN. Kata guruku dulu sih UN cuma buat wangu2 aja, karena kalo nilai kita jelek terus tiba2 ditanya orang kan malu. Intinya, kalo UN mau dihapuskan, setuju2 aja sih meskipun aku udah ga UN. Karena UN justru nambah beban," tulisnya mendukung kebijakan Nadiem yang akan menghapus UN dan menggantinya dengan asesmen kompetensi minimun dan survei karakter sebagai syarat kelulusan.

Kritik keras juga lahir terkait UN dari akun timothyfebb pelajar dari sekolah Victory Plus kelas 11 yang mengatakan, "UN membuat hari sengsara. Katanya UN dibuat sebagai sistem  evaluasi standar pendidikan, tapi buktinya sampai sekarang kualitas pendidikan Indonesia masih rendah dan belum merata," tulisnya.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

Banyak lagi curhat para pelajar saat menghadapi UN. Menurut Nadiem, mereka bukan ingin menghilangkan pelaksanaan ujian nasional, tapi berharap agar pelaksanaannya dievaluasi karena dianggap banyak berdampak negatif.

“Sebenarnya banyak juga dari mereka yang tidak ingin menghapuskan, tetapi menghindari hal-hal yang negatif, (mulai) dari sisi stres, kayak menghukum siswa yang mungkin dari bidang ( UN) itu kurang kuat dan lain-lain," ujar Nadiem beberapa waktu lalu saat mantan Bos Gojek ini  menjadi pembicara pada Konferensi Pendidikan Indonesia di Gedung Kemendikbud.

Nadiem juga mengatakan akan mengganti UN dengan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.
Lepas dari hal itu semua, komentar dari akun sabana.idd bisa menutup berbagai curhat para pelajar terkait UN yang terkesan begitu berat dan melelahkan.

"Kalau bisa UN itu seperti ujian di akhirat yang hampir rata-rata sudah dibocorkan pertanyaannya oleh guru/ustad/Kiai, jadi enak jawabnya," ujarnya berseloroh.