Kepala OJK (tiga dari kanan) Heru Cahyoni saat rilis di The Singhasari Resort Kota Batu, Jumat (13/12/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Kepala OJK (tiga dari kanan) Heru Cahyoni saat rilis di The Singhasari Resort Kota Batu, Jumat (13/12/2019). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Evaluasi Kinerja BPR/S Semester II Tahun 2019 digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 4 Jawa Timur di The Singhasari Resort Kota Batu, mengusung tema ‘Peningkatan Kinerja dan Manjemen Risiko BPR/S untuk Menyonsong Peluang Bisnis Usaha BPR/S di Tahun 2020’.

Baca Juga : Pertama Kalinya di Malang Ada Studio Apartemen Luas Harga Termurah Hanya di Kalindra

“Tantangan dan tingkat kompetisi yang dihadapi oleh industri BPR/S saat ini cenderung semakin ketat dengan berkembangnya perusahaan financial technology (fintech), Lembaga Keuangan Mikro (LKM), Koperasi dan BMT, serta layanan LAKU PANDAI dan program KUR dengan bunga 6% mulai Januari 2020,” Kepala Otoritas Jasa Keungan Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono, Jumat (13/12/2019).

Untuk menghadapi hal tersebut, OJK menginginkan agar BPR/S di Jawa Timur selalu dapat menemukan peluang yang ada di balik tantangan tersebut. “Di era disrupsi ekonomi saat ini, kita semua harus agile (tangkas/cekatan) dan mampu melakukan shifting (perubahan) agar dapat tetap bisa bertahan dalam industri," kata dia. 

Menurutnya, revolusi industri 4.0 telah merubah paradigma masyarakat dan transformasi digital telah memasuki seluruh sendi kehidupan masyarakat, sehingga mampu merubah gaya hidup. Karena itu kemudahan dan kecepatan dalam memperoleh layanan sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan masyarakat saat ini, terutama bagi generasi millennial.

”Ini semua adalah peluang yang harus ditangkap oleh BPR/S sehingga inovasi dan kreativitas yang tinggi dalam mengembangkan produk dan layanan perbankan merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan BPR/S dalam memanfaatkan peluang-peluang tersebut,” tambahnya.

Baca Juga : Tips Aman Ambil Uang di Mesin ATM Saat Pandemi Covid-19

Hanya saja disadari, jika BPR/S memiliki berbagai kendala untuk melakukan transformasi digital. Mulai dari biaya investasi dan operasional yang tinggi, juga kesiapan SDM adalah permasalahan utama yang harus diselesaikan oleh BPR/S di tengah kendala keterbatasan modal dan dukungan Pemegang Saham.

“Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, BPR/S dapat melakukan kolaborasi dengan mengembangkan platform bersama (platform based), baik dengan sesama BPR/S dalam satu industri, maupun berkolaborasi dengan Bank Umum atau lembaga jasa keuangan lainnya seperti fintech,” imbuh Heru.

Meurutnya hal itu penting karena sinergi dan kolaborasi merupakan salah satu kunci utama keberhasilan perusahaan untuk dapat survive dalam era disrupsi. Hanya saja, hingga saat ini fintech di Jawa Timur baru ada 4.