Para pencari kerja di Kabupaten Malang yang didominasi para lulusan SMK/SMA dan sederajat (Nana)
Para pencari kerja di Kabupaten Malang yang didominasi para lulusan SMK/SMA dan sederajat (Nana)

MALANGTIMES - Pengangguran di Kabupaten Malang masih jadi persoalan serius yang setiap tahun masih menjadi momok menakutkan. 

Dengan angka pencari kerja dari lulusan SMK/SMA/MA yang setiap tahunnya bisa mencapai 12 ribu orang, serta dari lulusan S1 maupun diploma dan masyarakat umum, membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat dan kompetitif.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Kondisi ini menjadi cukup pelik dengan adanya penyumbang pengangguran tertinggi adalah para lulusan SMK yang notabene merupakan usia produktif. Hal ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang meliris angka penyumbang pengangguran tertinggi tahun 2018 dari lulusan sekolah adalah SMK. Data BPS mencatat, jumlah pengangguran lulusan SMK sebesar 9,27 persen, disusul lulusan SMA 7,03 persen, lulusan SMP 5,36 persen, diploma III 6,35 persen, dan universitas 4,98 persen.

"Data itulah yang membuat tiga pemangku kepentingan terkait itu harus terus saling dukung. Sehingga angka pengangguran semakin turun, khususnya di lulusan SMK yang jumlah sekolahnya saat ini 139 unit di Kabupaten Malang," ucap Bupati Malang Sanusi, Jumat (13/12/2019).

Tiga pemangku kepentingan itu adalah Akademis (sektor pendidikan), Business (dunia industri) dan Government (pemerintah daerah). Atau biasa dikenal dengan ABG.

"ABG ini harus saling dukung untuk menurunkan angka pengangguran. Tanpa bersinergi tentunya akan sulit menekan angka pengangguran, khususnya dari para lulusan SMK kita," ujarnya.

Sanusi mencontohkan, sinergi dalam ABG sebenarnya telah berjalan walaupun tentu perlu ada berbagai catatan dan penguatan terus menerus setiap tahunnya. Pasalnya, tantangan dan persaingan serta ruang kerja setiap tahun juga berubah. Terutama di era revolusi industri 4.0 saat ini, dimana berbagai profesi pekerjaan diprediksi akan banyak yang hilang dan diganti dengan yang lain sesuai zaman.

"Ini terlihat di SMK 5 Muhammadiyah Kepanjen, misalnya. Di sana unsur ABG telah berjalan dan bisa dijadikan rujukan. Sehingga harapannya para lulusan SMK bisa terserap lapangan pekerjaan bila tak meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi," ucapnya.

Selain hal itu, Sanusi juga membuka ruang lebar bagi para lulusan SMK atau SMA untuk kerja magang di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Tak hanya itu untuk menguatkan ABG dalam menurunkan angka pengangguran, Pemkab Malang juga mendukung penuh adanya Forum Skill Development Center (SDC). Sebuah forum yang diinisiasi oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI (Bapenas) dan Kementerian Tenaga Kerja, untuk menekan angka pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

"Pemkab Malang tentunya sangat mendukung itu dan berharap bisa segera diimplementasikan," ujar Sanusi.

Terpisah, Surini Santoso dari SDC mengatakan, hal yang senada. Bahwa ABG akan sangat membantu dan mempercepat penurunan angka pengangguran di Kabupaten Malang. Pasalnya, pengangguran tak bisa hanya dibebankan pada satu pihak saja. 

"Karena itu lewat SDC yang fungsinya untuk mengidentifikasi kebutuhan industri dan mengembangkan program pelatihan serta memfasilitasi sertifikasi dan penempatan tenaga kerja pun tentunya memerlukan komitmen dari tiga unsur itu," ucapnya.

Surini melanjutkan, melalui Forum SDC ini diharapkan bisa membantu Pemkab Malang dalam menurunkan angka pengangguran, khususnya pada lulusan SMK dan sederajat. Sekaligus menyiapkan keterampilan para pencari kerja sesuai dengan kebutuhan industri atau pasar.