Baner aksi damai yang terbentang di depan pintu masuk SMPN 4 Kepanjen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Baner aksi damai yang terbentang di depan pintu masuk SMPN 4 Kepanjen (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tidak seperti biasanya, akses lalu lintas di kawasan Jalan Raya Gunung Kawi, Kecamatan Kepanjen mendadak terjadi kemacetan panjang. Hal itu dikarenakan adanya puluhan aktivis, alumni SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 4 Kepanjen dan organisasi yang mengatasnamakan Arek Kepanjen (AK) menggelar aksi damai di depan SMPN 4 Kepanjen, Selasa (4/12/2019) siang.

Berdasarkan penelusuran MalangTIMES.com di lokasi aksi, puluhan lapisan masyarakat tersebut mengaku jika aksi damai ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan atas adanya kasus pencabulan yang terjadi di SMPN 4 Kepanjen.

Dari pengamatan di lapangan, massa bergerak dari kawasan Jalan Effendi menuju Jalan Kawi dan berhenti tepat di depan pagar SMPN 4 Kepanjen. Dalam rute yang dilalui sekitar 1 kilometer tersebut, massa aksi juga sempat membentangkan baner berwarna putih. Pada baner yang berukuran sekitar 10 x 2 meter tersebut, juga terdapat tulisan ‘Save SMPN 4 Kepanjen’.

”Baner ini merupakan simbol kepedulian kami terhadap kasus pencabulan di SMPN 4 Kepanjen. Masyarakat bisa membubuhkan tanda tangan di bener ini, sebagai wujud solidaritas terhadap musibah pencabulan yang telah mencoreng citra baik instansi pendidikan,” terang Ketua Organisasi Arek Kepanjen (AK) Dian Arif Cahyono, saat ditemui awak media disela agenda aksi massa.

Selama aksi berlangsung, banyak masyarakat maupun pengguna jalan yang menyempatkan diri untuk mendukung aksi damai tersebut dengan cara membubuhkan tanda tangan. Alhasil, kepadatan kendaraan sempat terjadi di kawasan Jalan Gunung Kawi tersebut.

”Kami menuntut agar kasus pencabulan di SMPN 4 Kepanjen ini diusut hingga tuntas. Stop bullying kepada para korban pencabulan, dan yang terpenting jangan sampai kasus semacam ini terjadi lagi di Kabupaten Malang,” tegas Dian Arif Cahyono.

Pria yang akrab disapa Kiko ini, beranggapan jika kasus pencabulan yang terjadi di instansi pendidikan tersebut merupakan musibah. Sebab dampaknya tidak hanya kepada para korban pencabulan. Namun seluruh elemen masyarakat di Kabupaten Malang termasuk pihak sekolahan juga menjadi korban akan adanya kasus pencabulan oknum guru BK tersebut.

”Semua menjadi korban, baik pihak sekolahan, mulai dari kepala sekolah, guru, keluarga korban, semua siswa SMPN 4 Kepanjen hingga warga Kecamatan Kepanjen juga menjadi korban. Kasus ini tidak hanya menimpa siswa yang menjadi korban pencabulan, tapi semuanya juga kena dampaknya," ungkap Kiko.

Kiko mengaku, jika dirinya dan komunitas AK siap memberikan dukungan dan pendampingan terhadap SMPN 4 Kepanjen. Dirinya juga berharap, agar pihak sekolah mampu memberikan pendampingan secara periodik. Sehingga kondisi psikis para korban pencabulan bisa berangsur membaik.

"Terkait proses hukumnya, sepenuhnya kami serahkan kepada pihak kepolisian (Polres Malang). Namun, terkait proses pendampingan para korban pencabulan, kami siap mengawal dan bahkan turut serta mendampingi para siswa yang menjadi korban,” sambung Kiko.

Di sisi lain, puluhan anggota kepolisian juga nampak memberikan pengamanan di sekitar lokasi aksi massa. Bahkan, sekitar 2 jam sebelum aksi digelar, anggota Polres Malang sudah melakukan pengamanan dilokasi aksi.

"Sekitar 90 personel kami siagakan untuk mengawal aksi damai hari ini (Selasa 10/12/2019). Personel yang diterjunkan di lokasi aksi diinstruksikan untuk memastikan situasi tetap berjalan aman dan tidak sampai mengganggu arus lalu lintas," ucap Kabag Ops Polres Malang, Kompol Sunardi Riyono, saat ditemui awak media sesaat setelah melakukan apel gelar pasukan.

Sebagai tambahan, setelah aksi damai ini berakhir. Beberapa perwakilan aktivis, alumni, dan Komunitas AK juga menghadiri agenda rembuk bareng di SMPN 4 Kepanjen. Pada kegiatan tersebut, para pemberi materi baik dari pihak kepolisian, Kepala Sekolah, dan beberapa tamu undangan terlihat begitu serius saat membahas langkah yang bakal diambil usai kasus pencabulan terhadap belasan siswa ini terjadi di SMPN 4 Kepanjen.

Setelah hampir 3 jam melakukan pertemuan, tepatnya pukul 16.30 WIB. Para pemateri dan tamu undangan baru keluar dari ruang pertemuan.

Seperti yang sudah diberitakan, CH (inisial) diringkus anggota Satreskrim Polres Malang pada Jumat (6/12/2019) sore. Mantan GTT (guru tidak tetap) di SMPN 4 Kepanjen tersebut, diamankan petugas karena telah mencabuli sedikitnya 18 orang muridnya.

Aksi pencabulan salah satu warga Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen ini, terjadi sejak bulan Agustus 2017 hingga Oktober 2019. Hingga berita ini ditulis, Polres Malang masih terus melakukan penyelidikan guna mengusut tuntas kasus yang mencoreng instansi pendidikan tersebut.