Mobil pemadam kebakaran milik PMK Kabupaten Malang, saat dioperasikan untuk memadamkan kebakaran (Foto : Dokumen MalangTIMES)
Mobil pemadam kebakaran milik PMK Kabupaten Malang, saat dioperasikan untuk memadamkan kebakaran (Foto : Dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Peristiwa kebakaran di Kabupaten Malang melonjak drastis. Dari yang hanya puluhan kasus di tahun 2018, tahun 2019 ini musibah kebakaran sudah terjadi sebanyak ratusan kali.

Kepala bidang PPBK Kabupaten Malang, Goly Karyanto, menjelaskan jika sejak bulan Januari hingga awal bulan Desember 2019. Kabupaten Malang mengalami musibah kebakaran sebanyak 115 kali.

”Jumlah itu meningkat drastis jika dibanding dengan tahun 2018. Tahun lalu hanya ada 86 kejadian, jumlah itu merupakan rekapan dalam satu tahun. Kemungkinan tahun ini jumlahnya akan meningkat, mengingat bulan Desember masih menyisakan beberapa minggu lagi,” terang Goly.

Menanggapi lonjakan peristiwa kebakaran di tahun 2019 ini, PMK Kabupaten Malang menambah senjata ‘tempur’ mereka dengan membeli 5 pompa air. Pompa air tersebut sudah didatangkan pada pertengahan tahun 2019 ini. ”Kapasitas pompa mampu menghisap air sebanyak 1.500 liter per menit. Anggaran yang kami gelontorkan untuk membeli 5 pompa ini, mencapai Rp 400 juta,” terang Goly.

Disisi lain, Goly menjelaskan hingga saat ini PMK Kabupaten Malang sudah memiliki 7 mobil pemadam kebakaran. Jumlah tersebut sudah termasuk penambahan satu unit mobil pemadam kebakaran, yang didatangkan PMK Kabupaten Malang pada bulan september 2019.

”Tahun 2020 mendatang kami harap ada tambahan 1 mobil tangki untuk supali air, kami sudah mengajukan anggaran untuk tahun depan,” sambung Goly kepada MalangTIMES.com.

Masih menurut Goly, satu armada mobil tangki yang hendak didatangkan pada tahun 2020 itu dibandrol dengan harga sekitar Rp 600 juta. ”Kalau mobil tangki ini hanya bisa menampung air. Mekanismenya, air yang tertampung akan dipindah ke tangki mobil pemadam kebakaran yang bisa menyemprotkan air,” jelas Goly.

”Sedangkan yang bisa digunakan untuk menampung sekaligus langsung menemprotkan air, harganya per unit ditaksir mencapai Rp 1,1 milyar. Kami sudah ajukan anggaran untuk pengadaan, untuk realisasinya tergantung berapa anggaran pembelanjaan yang disediakan,” tutup Goly.