Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Husnul Muarif. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Belum lama ini, Kota Malang disebut sebagai kota dengan stunting tertinggi di Jawa Timur. Namun pendapat itu kemudian ditampik melalui data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Dalam data yang dimiliki itu, angka stunting Kota Malamg adalah 17 persen, jauh berada di bawah Jatim sebesar 38 persen.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif menyampaikan, angka stunting di Kota Pendidikan ini terus mengalami penurunan. Hal itu seiring dengan program yang telah digelontorkan setiap tahunnya. Salah satunya pendampingan pada calon ibu hamil hingga bayi yang telah dilahirkan.

Baca Juga : Hari Ini, Pemkot Malang Luncurkan Bansos Tahap Awal bagi Warga Terdampak Covid-19

"Pendampingan terus dilakukan hingga seribu hari kehidupan pertama, dan akan terus berlanjut hingga anak tumbuh dewasa," katanya belum lama ini.

Meski angka stunting terus mengalami penurunan, Husnul menyampaikan jika penanganan stunting tak dapat dilakukan lembaga kesehatan atau Dinkes saja. Melainkan butuh peran serta elemen masyarakat. Salah satunya adalah perguruan tinggi yang memang memiliki jurusan di bidang kesehatan.

Sebagai Kota Pendidikan, menurutnya Kota Malang memiliki banyak keuntungan. Dengan keterlibatan perguruan tinggi kesehatan, dia optimis masalah kesehatan akan tertanganai dengan baik. Hal itu juga seiring dengan semangat Pentahelix yang selama ini terus disampaikan Wali Kota Malang Sutiaji.

"Tidak bisa hanya puskesmas saja, pendampingan perguruan tinggi tentunya akan sangat membantu," imbuhnya.

Keterlibatan perguruan tinggi itu menurutnya akan saling menguntungkan ke dua belah pihak. Di satu sisi, masyarakat akan menerima manfaat secara langsung untuk memperoleh layanan kesehatan berkualitas. Sedangkan di satu sisi akan bermanfaat dalam proses pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.

"Pendampingan melalui puskesmas dari perguruan tinggi kami harapkan untuk bisa tekan angka bayi lahir stunting," jelasnya.

Baca Juga : Bantuan Pangan Non Tunai di Kota Batu Sudah Cair, Berikut Jadwal dan Lokasi Tokonya

Sebagai informasi, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh anak balita akibat kekurangan gizi kronis. Kondisi ini terutama terjadi pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) otak sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.

Setiap daerah di Indonesia saat ini ditargetkan mampu menerapkan program dalam mengurangi angka stunting. Tujuannya adalah mencapai sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Saat ini, secara nasional angka stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen. Dalam lima tahun ke depan, angka stunting di Indonesia ditarget turun hingga di bawah 20 persen.