Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung (depan bagian tengah) saat menunjukkan barang bukti pemalsuan ijazah dan pencabulan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung (depan bagian tengah) saat menunjukkan barang bukti pemalsuan ijazah dan pencabulan (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Apa yang dilakukan CH (inisial) warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang ini tergolong nekat. Selain terbukti mencabuli 18 siswa pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama), pria kelahiran 18 November 1981 ini, juga memalsukan ijazah demi bisa bekerja sebagai tenaga pendidik di SMPN 4 Kepanjen.

”Saya melamar pekerjaan sebagai guru pada bulan Desember 2015,” celetuk tersangka CH saat sesi rilis di halaman Mapolres Malang berlangsung, Sabtu (7/12/2019).

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Dengan nada lirih, pria 38 tahun itu menceritakan secara gamblang awal mula dirinya diterima bekerja sebagai tenaga pendidik di SMPN 4 Kepanjen tersebut. ”Awalnya saya ini sebenarnya bekerja sebagai seles buku. Saya menawarkan buku ke sekolah itu (SMPN 4 Kepanjen),” kata CH.

Seiring berjalannya waktu, pada akhir tahun 2015 lalu CH iseng bertanya kepada salah satu staf di SMPN 4 Kepanjen. Inisial staf tersebut adalah SL.

Kepada SL, tersangka menanyakan lowongan pekerjaan sebagai guru BK (Bimbingan Konseling) di salah satu sekolah favorit di Kabupaten Malang tersebut.

Mendapat pertanyaan itu, SL mengaku jika ada lowongan. Kemudian tersangka bertanya apakah diperkenankan mengajukan lamaran, yang kemudian dijawab boleh oleh SL.

Informasi itu akhirnya diseriusi oleh tersangka. CH mulai mengumpulkan berbagai persyaratan. Salah satu dokumen yang dipersiapkan adalah ijazah S1 jurusan BK. ”Daftar pakai ijazah S1, tapi palsu. Saya tidak lulus, tapi memang saya pernah kuliah S1 jurusan BK di Unikama (Universitas Kanjuruhan Malang). Hanya sampai semester empat,” ungkap CH sembari mata berkaca-kaca dan nada sesenggukan seolah hendak menangis.

Guna memuluskan niatnya menjadi tenaga pengajar, lanjut CH, dirinya juga memalsukan berbagai surat dan dokumen lamaran pekerjaan. ”Ijazah yang saya cantumkan tidak asli, hanya foto copy-an,” sambung CH.

Upaya yang dilakukan tersangka ternyata membuahkan hasil, CH diterima bekerja di SMPN 4 Kepanjen. ”Waktu seleksi juga ada tes wawancara, waktu itu yang memimpin seleksi Wakasek (Wakil Kepala Sekolah),” tutur pria berkaca mata ini.

Setelah diputuskan diterima, karir CH di tempatnya bekerja terbilang cukup moncer. Meski sempat hanya menjadi pembantu staf, pada bulan Juli 2016 tersangka diangkat statusnya menjadi GTT (Guru Tidak Tetap). SK (Surat Keputusan) itu memutuskan CH menjadi guru BK.

Dua tahun berselang, tepatnya pada tahun 2018, CH kembali menerima SK dan dipercaya mengajar pelajaran Pkn (Pendidikan Kewarganegaraan). Amanah itu berlangsung hingga akhir November 2019 sebelum akhirnya dirinya dipecat karena kasus pencabulan terhadap 18 siswa di tempatnya bekerja.

”Selama bekerja di sana (SMPN 4 Kepanjen), tidak ada yang tahu jika ijazah yang saya gunakan untuk melamar adalah palsu,” ucap CH.

Sebagai tambahan, tersangka CH diamankan Satreskrim Polres Malang pada Jumat (6/12/2019) sore, karena kasus pencabulan terhadap 18 siswa. Modus yang digunakan tersangka adalah meminta tolong kepada korban agar bersedia menjadi objek penelitian disertasinya.

Tugas penelitian abal-abal itu, diakui pelaku membutuhkan sampel sperma, ukuran kelamin, bulu kemaluan, bulu ketiak, dan bulu kaki untuk meneliti kenakalan remaja.

Setelah bujuk rayu itu keluar, korban yang terperdaya kemudian dibuka pakaian seragam dan celana dalamnya sebelum akhirnya disuruh berbaring di sofa ruang tamu yang ada di ruang guru BK.

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid 19, Pelaku Curnamor Makin Liar, Sehari Dua Motor Digasak

Dengan keadaan setengah telanjang, CH kemudian merangsang kemaluan korban hingga klimaks (mengeluarkan sperma). Jika sudah demikian, si korban baru diperkenankan keluar ruangan BK yang semula dalam keadaan selambu, pintu, dan jendelanya terkunci rapat tersebut. 

Sebelum keluar ruangan, para korban disuruh untuk mengucap sumpah di bawah kitab suci jika mereka tidak akan bercerita kepada orang lain, akan kejadian yang dialaminya.

Dari hasil penyidikan polisi, aksi abnorml itu berlangsung selama 2 tahun lamanya. Diduga kuat korbannya berjumlah lebih dari 18 siswa. Dimana semua korban merupakan laki-laki. Jika dirata-rata, dalam satu bulan tersangka mengaku mencabuli 1 hingga 3 orang muridnya.

Akibat perbuatan nekatnya tersebut, tersangka CH dijerat dengan pasal 82 ayat 1 dan 2 juncto pasal 76E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 dan pasal 294 KUHP, tentang perlindungan anak dan pencabulan. Dikarenakan tersangka merupakan seorang guru dan korbannya adalah muridnya, maka ancaman yang disangkakan polisi bertambah 1/3 menjadi 20 tahun kurungan penjara.

Sementara itu, Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung, mengaku jika temuan ijazah palsu yang dilakukan tersangka CH terungkap setelah proses penyidikan pencabulan berlangsung. ”Kami sudah kroscek langsung ke Unikama, ternyata pihak Universitas mengaku tidak pernah mengeluarkan ijazah atas nama tersangka CH," ucap Ujung saat sesi rilis berlangsung, Jumat (7/12/2019).

Perwira polisi dengan pangkat 2 melati di bahu ini, menambahkan jika berdasarkan penyidikan polisi, tersangka dengan sengaja mem-foto copy ijazah milik temannya yang juga sempat mengajukan lamaran sebagai guru IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) di salah satu SMP Negeri di Kepanjen tersebut.

Namun, teman CH yang memiliki ijazah asli ini justru tidak keterima bekerja. Sedangkan CH yang notabene menggunakan ijazah palsu malah diterima bekerja di SMPN 4 Kepanjen. Pihak sekolah berdalih, jika saat itu guru IPS kuotanya sudah penuh. ”Tersangka menggunakan foto copy-an ijazah temannya, yang kemudian ditempeli nama dan foto tersangka sesuai dengan kolom yang ada dalam ijazah tersebut. Setelah itu, tersangka akan mem-foto copy ulang dan digunakan untuk melamar pekerjaan,” terang Ujung.

Hingga berita ini ditulis, Ujung mengaku masih terus mengembangkan kasusnya. Diduga kuat, paska dipecat dari SMPN 4 Kepanjen, ijazah palsu milik tersangka CH sempat digunakan untuk menipu beberapa instansi sekolahan lainnya. Yakni dengan modus yang sama, melamar sebagai guru BK.

”Pasal yang kami kenakan terhadap tersangka ini berlapis. Selain pasal tentang perlindungan anak dan pencabulan, tersangka juga kami jerat dengan pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat. Akibat perbuatannya, tersangka diancam kurungan penjara maksimal selama 20 tahun,” tegas Ujung.