Situasi dan kondisi halaman SMPN 4 Kepanjen, saat jam pelajaran selesai setelah adanya laporan dugaan pelecehan dan pencabulan guru BK terhadap belasan muridnya (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Situasi dan kondisi halaman SMPN 4 Kepanjen, saat jam pelajaran selesai setelah adanya laporan dugaan pelecehan dan pencabulan guru BK terhadap belasan muridnya (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kasus pelecehan dan pencabulan yang terjadi di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 4 Kepanjen, langsung direspons cepat oleh pihak sekolahan. Bahkan, CH (inisial) yang dilaporkan telah melakukan pencabulan terhadap belasan siswanya dikabarkan sudah dipecat.

Hal itu ditegaskan langsung oleh Kepala SMP Negeri 4 Kepanjen, Suprianto. Pihaknya mengaku jika dirinya mendapat informasi jika ada kasus pencabulan di sekolahnya, pada hari Jumat (29/11/2019). ”Setelah selesai salat jumatan saya dilapori para guru jika ada kejadian itu (pencabulan). Saat ini yang bersangkutan (CH) sudah dipecat,” tegas Suprianto kepada MalangTIMES.com, Kamis (5/12/2019).

Baca Juga : Tulis "Bubarkan Negara", 10 Orang Ini Diciduk Polisi

Pihaknya menambahkan, keputusan pemecatan CH ini diambil setelah pihak internal SMPN 4 Kepanjen mengadakan rapat, guna membahas laporan pencabulan tersebut. Pada agenda rapat yang berlangsung pada Sabtu (30/11/2019) itu, pihak sekolahan sepakat untuk memberhentikan masa bakti CH secara tidak terhormat.

”Kurang dari 24 jam, yang bersangkutan langsung kami pecat. Keputusan kami ambil setelah melakukan pengembangan dan mempertimbangkan beberapa masukan. Setelah dia (CH) mengakui semua perbuatannya, dan hasilnya ternyata memang positif. Saya langsung koordinasi dengan beberapa pihak terkait, dan saat itu juga saya buatkan SK (Surat Keputusan) pemberhentian (kepada CH),” terang Suprianto.

Selain memecat CH, lanjut Suprianto, pihaknya juga sudah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian. ”Sudah lapor ke polisi, informasinya kasusnya sedang dalam proses penyelidikan,” jelas Suprianto.

Seperti yang sudah diberitakan, CH dilaporkan ke Polres Malang dengan dugaan kasus pencabulan kepada 18 siswanya. Aksi tidak senonoh itu, diduga kuat terjadi sejak satu tahun lalu. Bahkan, ada salah satu korban yang mengaku sudah dicabuli sebanyak 3 kali. Yakni sejak korban masih duduk dibangku kelas VII SMP dan kini yang bersangkutan sudah duduk dibangku kelas VIII.

Belasan korban tidak dicabuli secara bersamaan, namun bergantian. Modus yang digunakan CH, adalah dengan cara memanggil korban untuk masuk ke ruangannya. Setelah menutup pintu dan slambu, terlapor mengaku jika dirinya sedang melakukan penelitian untuk program studi lanjutan S-3 dan membutuhkan bantuan para siswa.

Setelah disumpah di bawah kitab suci, para korban langsung ditelanjangi yang kemudian di rangsang kemaluannya oleh terlapor. Mirisnya lagi, aksi pelecehan dan pencabulan itu baru berhenti setelah korban mengeluarkan sperma.

Modus semacam itu dilakukan kepada semua korban. Kasusnya baru terbongkar setelah salah satu korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada keluarganya. Merasa tidak terima, kejadian ini akhirnya dilaporkan ke Polres Malang.

Baca Juga : Napi yang Bebas Kembali Berulah, Yasonna Laoly Ambil Tindakan Tegas Ini

Terpisah, Warsito selaku Ketua Komite SMPN 4 Kepanjen, mengaku dirinya sangat miris ketika mendengar adanya kabar perihal aksi pencabulan oknum guru honorer terhadap muridnya tersebut. Bahkan, Warsito juga sangat menyayangkan kenapa peristiwa pencabulan itu, baru diketahui belakangan ini.

”Perkaranya kan sudah lama, sudah satu tahun lebih. Apalagi dia (CH) kan juga sudah lama mengajar di sana, takutnya kalau korbannya sudah banyak,” kata Warsito, Kamis (5/12/2019).

Warsito mengimbau, agar para wali murid yang merasa anaknya menjadi korban, agar segera melaporkan ke pihak kepolisian. ”Laporkan saja, saya pasti mendukungnya. Bahkan siap mendampingi, nanti kalau perlu saya carikan pengacaranya sekalian,” tegas Warsito dengan nada geram.

Hingga saat ini, lanjut Warsito, selain menyerahkan kasusnya ke pihak kepolisian. Pihaknya juga sedang fokus memberikan pendampingan kepada para siswa yang telah menjadi korban pencabulan dan pelecehan.

”Kami masih fokus memulihkan kondisi psikis korban. Mereka kan masih remaja, jadi perlu pendampingan lebih. Apalagi setelah kasus ini menimpa para korban,” tutup Warsito.