Suasana simulasi kebencanaan di ruang bermain anak di Alun-Alun Kota Malang. (Foto: Disperkim Kota Malang)
Suasana simulasi kebencanaan di ruang bermain anak di Alun-Alun Kota Malang. (Foto: Disperkim Kota Malang)

MALANGTIMES - Suasana area ruang bermain di Alun-Alun Kota Malang mendadak gaduh. Warga dan anak-anak yang asyik bermain harus menghentikan aktivitasnya. 

Mereka lalu berlarian dan berhamburan menyelamatkan diri. Semua itu lantaran guncangan gempa berkekuatan 4,5 skara Richter (SR) mengguncang Alun-Alun Kota Malang,  pagi ini (Kamis, 5/12).

Baca Juga : Usul Pemakaman Nakes Covid-19 di TMP & Anugerah Bintang Jasa Berujung Bully untuk Ganjar

Para petugas dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), polisi taman (poltam) Kota Malang sigap mengevakuasi warga. Satu per satu masyarakat berlindung dengan mengikuti arahan petugas. Mereka menaruh tangan di atas kepala sambil menjauhi titik gempa hingga menuju titik evakuasi.

Aktivitas ini bukanlah kejadian nyata,  namun bentuk simulasi bencana yang dicanangkan Disperkim (Dinas Pertamanan dan Permukiman) Kota Malang dengan menggaet tim BPBD Kota Malang. Menariknya, warga yang ada di area tersebut tidak diberi tahu terlebih dahulu. Sehingga kegiatan simulasi kebencanaan berlangsung spontan.

Bentuk kegiatan tersebut menjadi salah satu acuan dalam fasilitas taman di Kota Malang sebagai ruang bermain ramah anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. "Kami sudah melalui ini dan berhasil mempertahankan sertifikat sebagai ruang bermain ramah anak. Tapi ada beberapa hal yang harus dibenahi dan kami diberi jangka waktu satu bulan untuk melakukan perbaikan," ujar Kabid Pertamanan Disperkim Kota Malang Kuncahyani.



Ia menjelaskan, tim audit dan evaluasi lapangan membeberkan beberapa yang perlu perbaikan di area taman tersebut. Antara lain pengelolaan CCTV dan pengadaan simulasi kebencanaan setidaknya tiga kali dalam satu tahun. 

"Untuk CCTV, kami sudah ada. Jaringannya sempat tidak berfungsi, tapi sudah kami perbaiki. Kemudian, simulasi sebelumnya sudah dua kali kami lakukan. Hari ini yang ketiga dan melibatkan BPBD Kota Malang yang sudah terbiasa dengan kebencanaan," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang Ali Mulyanto mengatakan, kegiatan simulasi kebencanaan tersebut menjadi salah satu langkah dalam menyosialisasikan kesadaran akan tanggap bencana dan warning (peringatan) bagi masyarakat.

"Karena kita tidak tahu kapan, di mana, dan bagaimana bencana itu terjadi. Di area taman tadi, kalau terjadi gempa, bagaimana menyelamatkan diri. Kita  tahu strategi yang harus dilakukan, bagaimana penyelamatan diri itu harus dilakukan," ungkapnya.

Metode penyelamatan di antaranya mulai dari bagaimana seorang itu harus menghindari titik gempa. Kemudian, dilarang untuk saling mendorong, menghindari pohon besar dan tower, hingga berada di titik evakuasi. "Sehingga kalau ini sudah paham, mereka tahu bagaimana menanggapi potensi bencana. Kemudian mereka yang ikut dalam simulasi itu juga bisa menyosialisasikan kepada rekannya, ke lingkungannya, saudara, dan kerabatnya," ucap Ali.