Ilustrasi (merdeka.com)
Ilustrasi (merdeka.com)

MALANGTIMES - Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Kohar Hari Santoso menyebut, 90 persen kematian ibu terjadi di rumah sakit. Hal itu menjadikan kasus angka kematian ibu (AKI) mendapat perhatian khusus dari pemerintah Provinsi Jatim.

Baca Juga : Hari Ini Pasien Positif Covid-19 Capai 4.839 Kasus, Ada 139.137 Orang Dalam Pantauan

Kohar menyampaikan, perlu ada evaluasi secara mendasar berkaitan pada penanganan ibu melahirkan. Terutama pola penanganan yang perlu untuk ditingkatkan dari level yang paling bawah. Sehingga, angka kematian ibu saat melahirkan dapat terus ditekan.

"Jadi banyak yang meninggal saat di rumah sakit. Apa yang salah sebenarnya? Maka perlu yang namanya peningkatan penanganan," terang dia.

Kematian ibu saat melahirkan itu kebanyakan menurutnya dipicu oleh permasalahan yang tak terlalu berat. Di antaranya adalah faktor pendarahan dan infeksi. Menurut Kohar, kedua faktor itu semestinya dapat diminimalkan sejak dini.

"Ini harus menjadi perhatian, karena penurunan angka kematian ibu setiap tahunnya masih landai saja," terang dia.

Bukan hanya AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) juga mendapat perhatian khusus. Dari banyak kasus yang dilaporkan, kematian bayi disebabkan faktor kekurangan gizi. Sehingga, setiap daerah terus didorong menggelar gerakan pemenuhan gizi pada warganya. Terutama pada ibu hamil yang memang dituntut memenuhi gizi selama mengandung.

Baca Juga : Kabar Baik, Satu Pasien Positif Covid19 Tulungagung Dinyatakan Sembuh

"Pengetahuan masyarakat akan gizi juga harus ditingkatkan. Karena masih banyak masyarakat yang pengetahuannya minim tentang pemenuhan gizi. Saat hamil, makannya sama kerupuk aja," terangnya.

Menurutnya, penanganan pada AKI dan AKB tersebut tak harus sepenuhnya diserahkan kepada lembaga kesehatan saja. Melainkan diselesaikan bersama-sama dengan banyak pihak. Karena berdasarkan survei, faktor kesehatan masyarakat dilatarbelakangi berbagai hal.

Pertama, pengaruh lingkungan yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat sebesar 40 persen. Kemudian perilaku masyarakat itu sendiri berpengaruh hingga 30 persen, kemudian faktor keturunan sebesar 5 hingga 10 persen. Terakhir faktor fasilitas kesehatan yang berpengaruh antara 20 hingga 25 persen.

"Lingkungan yang paling mendominasi kondisi kesehatan masyarakat," jelas dia.