Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Sebanyak 215 titik layanan penyedia obat anti retroviral (ARV) tersebar di seluruh wilayah Jawa Timur. Layanan kesehatan itu diharapkan dapat dimanfaatkan penderita orang dengan HIV/Aids atau ODHA. 

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk tak memberi stigma buruk kepada ODHA agar tak lagi ada perasaan ogah-ogahan mengonsumsi ARV.

Kepala Dinas Kesehatan Jatim, Kohar Hari Santoso menyampaikan, ARV memang obat yang tujuan utamanya bukan menyembuhkan pasien ODHA. Namun ARV dapat meminimalkan penularan, termasuk pada calon bayi pada ibu yang tengah hamil dan dinyatakan sebagai ODHA.

"Layanan ARV sudah ada di 215 titik dengan melibatkan 62 rumah sakit dan 100 lebih puskesmas. Jangan beri stigma negatif pada ODHA dan kami dorong agar ARV dikonsumsi meski bukan untuk menyembuhkan," katanya saat hadir sebagai pemateri Rapat Koordinasi Teknis Kesehatan Kota Malang yang digelar Barenlitbang Kota Malang, Rabu (4/12/2019).

Dia juga menyampaikan, angka HIV/Aids di Kota Malang saat ini terbilang masih cukup menonjol. Sehingga, dia mendorong agar ada upaya penanganan yang tepat. Seperti pada upaya pendampingan pada ODHA untuk patuh mengonsumsi ARV.

Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif menyampaikan, angka kepatuhan ODHA untuk mengonsumsi ARV di Kota Pendidikan ini terbilang masih minim. Dari total tiga ribu penderita ODHA yang tercatat sejak 2005 hingga 2019, baru sekitar 1.200 pasien yang rutin mengonsumsi ARV.

"Dari akumulasi pasien ODHA memang masih sedikit yang mengonsumsi ARV," imbuhnya.

Kondisi tersebut, menurutnya dimungkinkan karena adanya beberapa kendala. Mulai dari semangat dari pasien sendiri, dukungan dari keluarga, hingga faktor lingkungan sangat mempengaruhi seorang penderita HIV/Aids.

"Akses layanan yang mungkin jauh juga bisa jadi kendala ya, lalu berita yang beredar di kalangan penderita HIV/Aids ada yang bilang obatnya banyak efek samping, rasanya tidak enak dan lainnya. Belum mengakses, udah dengar itu akhirnya nggak jadi berobat," pungkasnya.