Wakil Gubernur Jatim  Emil Elistianto Dardak (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wakil Gubernur Jatim Emil Elistianto Dardak (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Baru-baru ini publik dibuat geger lantaran sebuah riset kolaborasi dari Jaringan Eliminasi Polutan Internasional (IPEN) menyampaikan temuan yang mengejutkan. Yakni, mengenai adanya kandungan bahan kimoan dioksin dalam telur ayam kampung di sebuah desa di Sidoarjo, Jawa Timur.

Penyebabnya karena makanan ayam yang berceceran di tanah desa tersebut telah tercemar racun berbahaya dari pembakaran sampah plastik yang dilakukan puluhan pabrik tahu di desa tersebut selama bertahun-tahun.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elistianto Dardak menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim telah mengambil langkah cepat dan berkoordinasi dengan bupati Sidoarjo. Salah satunya dengan pemberian kayu bakar dan mencari subtitusi energi yang lebih bersih. 

"Kami cari subtitusi energi yang lebih bersih. Dan dari awal semua sudah jelas, kami sangat tegas terhadap materi sampah yang melebihi ambang batas," ujarnya saat ke Kota Malang beberapa waktu lalu.

Wagub juga meminta para peternak ayam untuk bersikap tenang. Sebab, dari data yang diperoleh gubernur Jatim, sejumlah 8,2 miliar butir telur telah dikelola dengan baik. 

Terkait telur yang dianggap berbahaya di Jatim, Emil memyebut belum dikelola baik. Sedangkan sampah plastik yang mencemari lingkungan,  itu dijadikan acuan sebagai pengingat dalam gerakan lingkungan.

"Semua peternak, tenang saja. Kami tahu kalau semua telur dikelola dengan baik. Jadi, ada yang mengatakan telur di Jatim berbahaya. Bukan. Tujuannya mengingatkan tolong sampah plastik ini supaya jangan didiamkan saja," imbuhnya. 

Mantan bupati Trenggalek itu juga mengimbau kepada masyarakat di Jatim untuk melakukan gerakan lingkungan. Sebab, sampah plastik memang memiliki nilai kalori yang sangat tinggi sehingga tingkat pencemaran lingkungan juga akan meninggi ketika ada pembakaran.

"Yang penting gerakan lingkungan. Sampah plastik itu jangan dibiarkan. Sebenarnya kami juga bertemu pabrik tas yang mereka punya alat membakar plastik menjadi listrik. Makanya, Pak Bupati Sidoarjo kami minta ganti dulu dengan kayu sambil melihat bagaimana suplai gas agar bisa didorong untuk menjadi alternatif energi bakar yang terjangkau," pungkasnya.