Ilustrasi kebakaran (dok. MalangTIMES)
Ilustrasi kebakaran (dok. MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jelang tutup tahun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mencatat ada 201 bencana yang terjadi selama 2019. Kejadian itu mengalami peningkatan empat persen dibandingkan periode yang sama pada 2018 lalu, yaitu 193 kasus. Dari total bencana yang terjadi, kebakaran masih mendominasi.

Analis bencana BPBD Kota Malang Mahfuzi merinci, kejadian angin kencang naik cukup tinggi. Dari sembilan kasus pada  2018 menjadi 22 kejadian pada 2019. 

Kejadian pohon tumbang tercatat 20 kali. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan 2018 yang mencapai 48 kali.

 Selanjutnya bencana tanah longsor tercatat 42 kasus. Menurun sedikit dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 45 kasus. Kemudian, banjir atau genangan air ada 12 kasus, naik dibandingkan 5 kasus pada 2018.

Sedangkan bencana kebakaran menjadi 86 kasus dari 68 kasus pada 2018.  Gempa terjadi sebanyak dua kali dan kejadian non-alam tercatat 17 kali. "Paling banyak kebakaran, angin kencang, dan genangan air," ucap Mahfuzi.

Sementara untuk kejadian bencana selama November, Mahfuzi menyebut terdapat 17 bencana. Rinciannya, sekali tanah longsor, dua kasus banjir (genangan air), enam kebakaran, lima angin kencang, dua pohon tumbang, dan sekali kejadian non-alam.

Dari 17 kasus tersebut, lima kejadian berada di wilayah Kecamatan Sukun. Di Lowokwaru dan Kedungkandang masing-masing empat kasus, Blimbing tiga kasus, dan Klojen tercatat hanya satu kasus.

Sementara kerugian yang dialami akibat kerusakan pada bencana sepanjang 2019 tercatat mencapai Rp 10.792.047.300 atau naik 62 persen daripada tahun lalu yang sebesar Rp 6.658.146.850. Sedangkan untuk korban jiwa, hingga jelang akhir 2019, tercatat ada 34 warga mengungsi dan 15 orang luka. Sedangkan 2018 lalu, ada yang jadi korban tertimpa pohon tumbang.

"Kami harap angka korban dapat ditekan dengan cara kami memberikan edukasi kepada masyarakat tentang informasi kebencanaan," pungkas Mahfuzi.