Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak saat mengisi sosialisasi Millenial Job Center di Bakorwil Malang, Senin (2/12) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak saat mengisi sosialisasi Millenial Job Center di Bakorwil Malang, Senin (2/12) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Perkembangan ekonomi kreatif di Kota Malang semakin dijunjung tinggi hingga diapresiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Hal itu tak lepas dari era revolusi industri 4.0 yang mampu menghadirkan karya-karya kreatif berbasis digital dari Kota Malang.

Meski begitu, keberadaan 600 lebih komunitas kreatif di Kota Malang seyogyanya bisa terus menggaet generesai millenial. Salah satu yang tengah digencarkan saat ini yakni, Program East Java Super Corridor (EJSC) yang digagas Pemprov Jatim. 

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak menyatakan peningkatan ekonomi kreatif di Kota Malang berkembang pesat, dan menjadi unggulan se-Jawa Timur. Meski begitu, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) untuk terus berkembang terus digencarkan.

Nah, masalah yang tengah dialami saat ini adalah generasi millenial yang memiliki keresahan dalam mendapatkan pekerjaan. Permasalahan itu ada dua hal, mengenai modal dan Sumber Daya Manusia (SDM). 

"Modal dipakai untuk SDM. Start up ini padat karya tapi lebih banyak dilarikan untuk tenaga-tenaga terampil dan tenaga pendidik. Bagaimana menjawab kendala ini, kita harus selesaikan masalah SDM maka keduanya tertangani," ungkapnya saat mengisi Sosialisasi Millenial Job Centre (MJC) yang digelar di Kantor Bakorwil Malang, Senin (2/12).

Karenanya, kata dia Jawa Timur mempunyai '4 Pilar Strategi Jatim 4.0'. Diantaranya, Tallent Pool, yaitu MJC mampu memberikan talenta potensial dan kesempatan membangun jam terbang profesional agar tercipta tallent pool untuk ekosistem start up.

"Di Tallent Pool ini semacam basis ketersediaan talenta. Jadi seksrang kita punya talenta, harus kita sediakan, harus kita wadahi untuk bagaimana Millenial Job center menjawab talent poll," jelasnya.

Kemudian Venture Capital, sebuah kolaborasi dengan angel investor untuk membuka akses permodalan terfokus di Jatim. Di antaranya mulai membangun komunikasi dengan beberapa venture capital utama di Asia termasuk melalui Asosiasi seperti JCI East Java.

"Nah di sini, siapa yang mau memodali. Banyak sekali pemodal-pemodal yang siap mendanai start up, tapi start up nya yang belum siap karena belum stabil. Di sini upaya kita komunikasi untuk tahu kriteria pemodal ini seperti apa," imbuhnya.

Ketiga dijelaskan mantan Bupati Trenggalek itu yakni, UKM Go Digital. Yakni, dengan mendorong pelaku bisnis di Jatim untuk memanfaatkan start up teknologi dalam meningkatkan daya saing. Terlebih, Jatim terpilih sebagai salah satu lokus Kemenperin untuk Making Indonesia 4.0 Startup4Industry.

"Intinya siapa sih pemanfaat teknologi informasi, siapa pemanfaat jasa2 digital atau jasa-jasa ekonomi kreatif itu, ya industri. Sebenarnya UKM-UKM perlu memanfaatkan itu. Jadi ada orang punya usaha kuliner, kripik, dan lainnya kita ajari mereka bagaimana belajar digital marketing, bagaimana sosial media. Kita peracayakan manajemen digital marketing sama spesialis, talentanya top, bisnis konsisten," paparnya.

Sedangkan yang terakhir berkaitan dengan Ekosistem Fisik. Yaitu, dengan mendorong lokasi cluster industri digital diantaranya koridor 4.0 Surabaya-Malang, KEK Singhasari, East Java Super Coridor (EJSC) di 5 Bakorwil.

"Karena manusia itu nggak bisa pakai angan-anagan. Maka ruang kreatif itu harus ada. Nggak bisa dikatakan ayo taruh di mana saja bisa kreatif. Ini yang kita dorong untuk itu," katanya.