Ilustrasi HIV/AIDS (Foto: Istimewa)
Ilustrasi HIV/AIDS (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Penderita HIV/AIDS di Kota Malang masih tinggi. Data akumulatif penderita penyakit ini dari tahun 2005 hingga November 2019 mencapai 4.000 orang. Angka tersebut menjadikan Kota Malang berada di peringkat kedua se-Jawa Timur dalam kasus penyakit ini.

Tingginya penderita HIV/AIDS menjadi perhatian khusus Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Saat ini, fokus utama yang akan dilakukan yakni dengan memberikan pendampingan kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Baca Juga : Makin Meluas, Pemerintah Distribusikan Ratusan Ribu APD Cegah Covid-19

Salah satunya dengan pendampingan di setiap posyandu yang ada di masing-masing kelurahan serta RT/RW. "Kami (angka penderita HIV/AIDS) masih tinggi. Ini yang harus dilakukan pendampingan. Harapan kami, melalui posayandu, akan kami kuatkan bersama. Nanti arahnya begitu," ujar Wali Kota Malang Sutiaji.

Tidak dapat dipungkiri, tingginya penderita ODHA di Kota Malang ini cukup krusial. Ia menyebut, sosialisasi kepada masyarakat untuk menyadarkan akan penyakit ini juga terus-menerus digencarkan. Terutama bagi pasien HIV/AIDS yang pasif. Karena itu, dengan memaksimalkam BPJS Kesehatan, nantinya akan ada sistem dokter keluarga khusus bagi penderita tersebut.

"Pengidap AIDS itu kan ada yang proaktif dan ada yang pasif. Kalau yang proaktif, mereka rajin berobat. Yang susah ini yang pasif. Biasanya mereka cenderung mengurung diri karena tidak tahu. Nanti pendampingan itu juga bisa memaksimalkan BPJS. Sistemnya, dokter keluarga itu yang harus ke sana (memberikan pendampingan khusus bagi penderita pasif)," imbuh Sutiaji. 

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa menyatakan, pencegahan penyakit HIV/AIDS bisa dilakukan sejak dini. Yaitu, dengam rutin melakukan check-up kesehatan di tempat layanan kesehatan, baik itu puskesmas atau rumah sakit.

Baca Juga : Pasien Positif Covid-19 Bertambah Satu Orang di Kota Batu

"Pemeriksaan ini sifatnya gratis. Nanti setelah dites, hasilnya itu antara negatif, ragu-ragu, atau positif. Barulah kami berikan konseling sesuai hasilnya itu," ungkapnya.