Ilustrasi (kominfo)
Ilustrasi (kominfo)

MALANGTIMES - Stunting menjadi salah satu isu hangat yang terus bergulir hingga saat ini. 

Angka stunting di Kota Malang sendiri saat ini mencapai 19,7 persen. 

Baca Juga : Teruntuk Warga Kota Malang, Begini Cara Tes Covid-19

Meski angka itu mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya dan masuk kategori rendah dibanding Jatim maupun nasional, upaya penekanan angka stunting nampaknya masih terus digelorakan.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar menyampaikan, upaya pencegahan stunting dilakukan sejak ibu mengandung. 

Kemudian dilanjutkan hingga anak dilahirkan dan memasuki usia 100 hari pertama kehidupan.

Hal itu dilakukan lantaran stunting merupakan kondisi gagal tumbuh anak balita akibat kekurangan gizi kronis. 

Kondisi ini terutama terjadi pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK) otak sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak.

"Sehingga perlu ada upaya penguatan pada kader posyandu yang tesebar di seluruh kelurahan di Kota Malang. Sehingga pendampingan ibu hamil dapat dilakukan sejak dini," katanya pada wartawan belum lama ini.

Perempuan berhijab itu menyampaikan pencegahan stunting juga terus dilakukan hingga anak-anak memasuki usia sekolah. 

Salah satunya melalui pemberian obat cacing kepada anak-anak. 

Kemudian pada saat anak memasuki usia remaja, akan mendapat pendampingan khusus mengenai pengenalan organ reproduksi.

Sementara ketika anak memasuki usia dewasa dan hendak menikah akan diberikan pendampingan berupa penyuluhan bagi calon pengantin. 

Penyuluhan dilakukan secara aktif melalui kerjasama dengan pihak KUA.

Baca Juga : Pengamat: Tak Hanya Pandemi, Masyarakat Juga Hadapi Fenomena Infodemi

Tujuan penyuluhan itu sendiri adalah untuk memberi bekal kepada calon pengantin terkait kesehatan reproduksi, wanita usia subur (WUS), masa kehamilan, hingga gizi yang harus dipenuhi calon pengantin.

"Total kader kesehatan Kota Malang ada 6.541 orang," jelas dia.

Setiap daerah saat ini ditargetkan mampu menerapkan program dalam mengurangi angka stunting. 

Tujuannya adalah mencapai sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. 

Saat ini, secara nasional angka stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen. 

Dalam lima tahun ke depan, angka stuntinh di Indonesia ditarget turun hingga di bawah 20 persen.