Ilustrasi (Gieztcool).
Ilustrasi (Gieztcool).

MALANGTIMES - Musim penghujan sebelumnya diprediksi turun pada awal atau pertengahan November ini. Namun sampai akhir bulan, Kota Malang belum diguyur hujan seperti tahun-tahun sebelumnya. Kemarau berkepanjangan pun membuat Kota Malang terasa lebih panas dibandingkan hari-hari biasa.

Analisis kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Mahfuzi menyampaikan, molornya musim hujan dikarenakan beberapa hal. Menurut BMKG, hal itu dikarenakan rendahnya suhu permukaan laut dari suhu normal, yaitu 26 sampai 27 derajat celcius, di perairan selatan dan barat Indonesia.

Hal itu menyebabkan pembentukan awan berkurang dan hujan tak kunjung turun. "Jika kebutuhan air sangat mendesak, maka bisa diupayakan hujan buatan," katanya.

Hujan buatan sangat mungkin dilakukan di sebuah daerah yang krisis hujan atau cuaca ekstrem. Melalui teknologi penyemaian garam itu, maka intensitas hujan di sebuah daerah dapat ditambah sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengisi waduk, sungai, atau bahkan melakukan pemadaman kebakaran seperti yang sudah dilakukan di banyak daerah.

Sementara, jika hujan buatan harus diterapkan di Kota Malang, Mahfuzi menyampaikan  hal itu masih harus dikaji lebih jauh lagi. Ketika dalam hasil kajian memang dinyatakan perlu untuk dilakukan hujan buatan dan kondisi awan ada, maka langkah pembuatan hujan buatan sangat lumrah dilakukan.

"Tapi lakukan hujan buatan, banyak yang harus diperhatikan. Dan lagi, biayanya cukup besar," terang pria ramah ini.

Lebih jauh Mahfuzi menyampaikan, sepanjang Oktober 2019, Kota Malang mengalami hari tanpa hujan (HTH) selama 30 hari. Sedangkan hingga minggu ketiga Novemver, tercatat Kota Malang mengalami 13 HTH. Kondisi itu menyebabkan Kota Malang terasa lebih panas.

Dengan kondisi alam yang seperti itu, Mahfuzi menilai perlu ada upaya menjaga lingkungan yang lebih diperketat lagi. Sebab,  bukan tak mungkin anomali yang terjadi saat ini juga dikarenakan ulah manusia sendiri yang tak peka pada kelestarian alam dan lingkungan sekitar.

"Hujan buatan memang bisa dijadikan alternatif. Tapi itu pasti butuh biaya yang tak kecil. Itu sebabnya perlu yang namanya jaga lingkungan," pungkas Mahfuzi.