Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Malang Silvia Abdi Pratama dan Ketua Senat Mahasiswa UIN Malang Aldi Nur Fadil Auliya saat mengikuti Student Mobility Program (SMP) (Foto: istimewa)
Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Malang Silvia Abdi Pratama dan Ketua Senat Mahasiswa UIN Malang Aldi Nur Fadil Auliya saat mengikuti Student Mobility Program (SMP) (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Menteri Agama telah menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI)  adalah basis pengembangan moderasi beragama. Apalagi, moderasi beragama sudah dimasukan dalam RPJMN 2020-2024.

Dalam hal implementasi moderasi beragama, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) termasuk dalam barisan garda terdepan.

Dalam berbagai programnya, UIN Malang terus menyampaikan ajaran Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam, menjaga kohesi sosial, memperkuat persatuan, dan mengikis intoleransi yang masih terjadi di dalam bangsa ini.

Dan untuk memperkuat hal ini, Aldi Nur Fadil Auliya sebagai Ketua Senat Mahasiswa UIN Malang dan Silvia abdi Pratama sebagai Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN Malang mengikuti Student Mobility Program (SMP) ke Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sebanyak 68 mahasiswa yang tergabung dalam Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia mengikuti kegiatan SMP tersebut.

Ketua Forum Wakil Rektor/Wakil Ketua III PTKIN se-Indonesia Waryono Abdul Ghofur mengatakan, dalam SMP ini, mahasiswa mengikuti seminar dan mempresentasikan makalah moderasi beragama, berdiskusi dengan para mahasiswa PT tujuan dan juga melakukan memorandum of understanding (MoU) untuk pengembangan PTKI.

“SMP kita desain agar mahasiswa dapat banyak belajar di kampus-kampus di luar negeri dan mereka mengenalkan moderasi beragama sebagai bentuk tanggung jawab global,” terangnya di Kuala Lumpur, Selasa (26/11/2019).

Sementara Kasubdit Sarana Prasarana dan Kemahasiswaan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Ruchman Basori mengatakan, SMP merupakan program untuk memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa mengenal sistem pendidikan, tradisi akademik, dan kemahasiswaan perguruan tinggi di luar negeri.

“Pimpinan Mahasiswa harus mengenal dunia luar, agar mampu mengikuti pergaulan global dan membekali diri sejumlah ilmu dan pengalaman untuk masa depannya," kata Ruchman.

Ia berharap, SMP dimanfaatkan untuk menggali pengetahuan dan pengalaman bagaimana Malaysia, Singapura, dan Thailand mengembangkan pendidikan dan meningkakan mutu mahasiswanya.

Terpisah, hal senada juga disampaikan Rektor UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris MAg. Menurutnya, SMP penting untuk mengetahui seluk beluk pendidikan di luar negeri.

“Apalagi harapan kita UIN Maulana Malik Ibrahim ini menjadi World Class University, Universitas Kelas Dunia. Bukan hanya untuk kebanggaan saja, tetapi kita ingin memberikan kontribusi kepada dunia ini agar menjadi dunia yang damai dan saling memahami antarbangsa," tegas Haris.

Untuk diketahui, SMP Kemenag ini berlangsung dari 24-30 November 2019. Para mahasiswa didampingi 36 WR/WK III PTKIN se-Indonesia, 13 dosen dan juga tenaga kependidikan.

Rombongan mengunjungi empat perguruan tinggi tujuan, yakni Kolej Az-Zuhri di Singapura, KUIS-Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor (Universitas Islam Antarbangsa Selangor), International Islamic University of Malaysia (IIUM), dan di Fathoni University Thailand.