Banyak Angkot Tumbang, Para Sopir Minta Solusi ke Wali Kota Malang

Nov 26, 2019 16:17
Wali Kota Malang Sutiaji saat menjadi pembicara dalam acara Peningkatan Pembinaan Pengemudi Angkutan Umum tahun 2019, Selasa (26/11). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji saat menjadi pembicara dalam acara Peningkatan Pembinaan Pengemudi Angkutan Umum tahun 2019, Selasa (26/11). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keberadaan angkutan umum di Kota Malang  semakin bertumbangan. Salah satunya angkutan umum kota (angkot) yang dulu kerap digunakan masyarakat sebagai media bepergian dalam beraktivitas.

Baca Juga : Tanggapan Resmi Gojek dan Grab soal Fitur Ojek Online yang Hilang dari Aplikasi

Bahkan beberapa jalur angkot di Kota Malang telah lenyap dan tidak beroperasi lagi. Hal tersebut cukup menghambat perekonomian sehari-hari para sopit. 

Tumbangnya aktivitas angkot ini disinyalir karena maraknya transportasi online. Karena itu, para sopir angkot curhat ke Wali Kota Malang Sutiaji dan meminta dicarikan solusi.

"Memang keberadaan angkot ini kan sudah banyak yang tumbang. Seperti jalur GML (Gadang-Mergan-Landungsari) dan ASD (Arjosari-Sarangan-Dieng). Kami minta ada solusi lain. Terserah apakah memberikan kompensasi, subsidi, dan lain-lain. Yang jelas kalau seperti itu, semua akan tumbang dengan pergeseran transportasi online," ujar Muhamamd Romli, salah satu sopir angkot jalur AT (Arjosari-Tidar) saat menghadiri agenda Peningkatan Pembinaan Pengemudi Angkutan Umum tahun 2019, Selasa (26/11).

Terkait wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yang bakal menerapkan angkot berbasis online, pihaknya merasa hal itu tidak akan memberikan solusi. Pasalnya, sopir angkot sudah dinilai rentan dan dianggap gaptek (gagap teknologi).

"Saya tidak menolak (inovasi angkutan berbasis online), tapi ya disesuaikan dengan kondisinya. Karena pendidikan secara umum kami ini juga minim. Rata-rata usia kami juga sudah lanjut. Penglihatan mulai kabur. Karena saingan juga kuat dengan mobil mewah-mewah (transportasi online), nanti kami kalah," ucap Romli.

Selain persoalan tersebut, permasalahan kesehatan juga menjadi keluhan para sopir. Perihal BPJS Kesehatan bagi mereka juga diutarakan dalam agenda tersebut.

Baca Juga : PSBB Jakarta, 5 Perjalanan KA Jarak Jauh Daop 8 Surabaya Dibatalkan

Menanggapi hal itu, Wali Kota Malang Sutiaji menyatakan memang sopir-sopir angkot belum begitu memahami konsep angkutan berbasis online. Menurut dia, hal itu nanti akan dilakukan pelatihan-pelatihan dan uji coba. Sehingga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian bagi pengemudi angkot.

"Tadi sudah saya sampaikan, memang ada yang Pak nanti gaptek, Pak kami sudah tua. Saya yakin, pelan tapi pasti, kalau sudah tahu manfaatnya, itu akan bisa menjadi daya ungkit mereka untuk ikut," ungkapnya.

Sementara, berkaitan dengan keluhan sopir angkot dalam mendapatkan layanan BPJS Kesehatan,  Sutiaji memastikan semua warga miskin di Kota Malang akan mendapatkan fasilitas tersebut. Pria yang alrab disapa Aji ini juga meminta Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang untuk mendata sopir angkot yang tidak mampu.

"Nanti kami minta didata. Ini kan ada 600-an. Nanti total semua sopir angkot yang didata sekitar 1.600. Kami pastikan di APBD 2020 semua masyarakat tercover BPJS, terutama yang tidak mampu. Dan mereka juga tanya pembayarannya gimana. Itu nanti dibayar oleh pemerintah," pungkasnya.

Topik
MalangBeritaMalangke Wali Kota Malang sutiajitumbangnya angkotan umum di malangDinas Perhubungan Kota Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru