Kantor BP2D Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Kantor BP2D Kota Malang (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Di Kota Malang, saat ini berlaku sembilan jenis pajak yang dipungut. Sembilan jenis pajak tersebut yakni pajak parkir, pajak hiburan, pajak reklame, pajak bea perolehan hak tanah dan bangunan (BPHTB), pajak restoran, pajak rumah kosan, pajak air tanah, pajak bumi dan bangunan, serta pajak hotel.

Baca Juga : Turut Terdampak Covid-19, Pembangunan Rest Area Terminal Madyopuro Ditunda

Selain sembilan jenis pajak tersebut, Badan Pelayanan Pajak Daerah (BP2D) Kota Malang saat ini terus berupaya melakukan penggalian mengenai potensi-potensi jenis pajak baru. Tujuannya tentu untuk menambah pendapatan daerah Kota Malang.

"Dari 11 jenis pajak, di Kota Malang kan hanya sembilan jenis. Yang tidak ada yakni pajak sarang burung walet dan galian C. Di peraturan daerah (perda) dan dalam UU, kan ada potensi pajak itu di Kota Malang, namun belum kami pungut. Dan itulah kami cari. Namanya intens dan ekstens. Kami cari celah-celahnya," ujar Kabid Pemeriksaan dan Penagihan BP2D Kota Malang Dwi Cahyo TY.

"Dulu kan pajak kos itu belum kena. Tapi di UU ada, akhirnya kami gerilya ke kos. Dulu reklame berjalan juga belum kena. Tapi sekarang sudah kena semua," tambah Cahyo.

Dia melanjutkan, setiap reklame yang terpasang di mobil maupun sepeda motor, yang bersifat memengaruhi dan mengajak, jika  melintas di kawasan Kota Malang, maka akan dikenakan pajak. "Pada pajak reklame sendiri, ada item reklame berjalan. Balon udara, misalnya. Nah untuk penindakan, kami  kerja sama operasi gabungan dengan Dinas Perhubungan (Dishub) dan polres," ungkapnya.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Revitalisasi Pasar Bunulrejo Dibatalkan

Sementara itu, untuk kendaran luar kota yang memang di kendaraannya terpasang reklame berjalan, jika memang telah membayar pajak, harus menunjukan bukti pembayarannya.

"Sifatnya reklame. Ketika ia memublis dan memengaruhi orang untuk membeli atau melihat, maka akan kena pajak. Agency periklanan memang sudah banyak yang memakai reklame bergerak. Untuk tarifnya sama, namun tergantung besaran, disinari atau tidak, kemudian berapa sisi," pungkas Cahyo.