Bunga mawar yang ditanam di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Bunga mawar yang ditanam di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kemarau masih berlanjut. Hujan hanya datang beberapa kali mengguyur Kota Batu. Kondisi itu berimbas pada pertanian, khususnya pertanian bunga mawar.

Para petani bunga mawar di Kota Batu merasakan dampak kemarau tersebut sehingga produksi tanaman tersebut berkurang. Seperti yang dirasakan petani Achmad Azizir asal Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Dalam satu bulan terakhir, produksi mawar Azizir mengalami penurunan. “Kalau biasanya bisa dapat seribu tangkai setiap panen, sekarang cuma 700 tangkai,” ucap dia.

Berkurangnya jumlah produksi itu lantaran kelopak bunga tidak bisa mekar dengan baik. “Karena cuaca yang terik berpengaruh sama kualitas kelopaknya. Jadi kering,” imbuhnya.

Namun, Azizir mengaku tidak mengalami kerugian. Hanya, pendapatannya turun. “Penurunan pendapatan itu hingga 25 persen,” ungkapnya.

Untuk menghindari makin panjangnya penurunan produksi mawar, petani menyiasati dengan rajin mengairi lahan. Tujuannya agar  mawar bisa tumbuh dengan baik. Selain itu, pemberian pupuk rutin dilakukan.

Turunnya produksi itu mengakibatkan volume pengiriman mawar ke luar kota ikut turun. Misalnya, jika biasanya pengiriman ke Bali 4 ribu tangkai, kini turun menjadi 3 ribu tangkai.

“Selain Bali, kami juga kirim ke Jakarta, Surabaya, Surakarta, Jogjakarta, dan Bandung. Kami kurangi karena hasil produksinya berkurang,” kata Azizir.

 Petani mawar lainnya, Elias, mengaku mengalami penurunan produksi hingga 50 persen. Sebelumnya, setiap kali panen, dia bisa mendapatkan 2 ribu tangkai. Namun kini, Elias hanya bisa mendapatkan seribu sampai 1.500 tangkai.

“Setiap musim, kendala yang didapatkan itu berbeda-beda. Penurunan panenjuga demikian,” kata Elias.