Kondisi sampah di TPA Supit Urang (Arifina)
Kondisi sampah di TPA Supit Urang (Arifina)

MALANGTIMES - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang berharap masyarakat bisa memilah sampah mulai dari rumah. Hal itu karena sudah sangat banyak sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

Proyek program Sanitary Landfill senilai kurang lebih Rp 195 milliar dari sumbangan perusahaan Jerman dan Kementerian PUPR dicanangkan selesai di akhir 2019 ini rencananya akan membuat sampah lebih ramah terhadap lingkungan.

Meski begitu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang Rinawati berharap masyarakat tetap bisa melakukan pemilahan sampah agar tidak lagi ada penumpukan sampah yang terlalu tinggi.

"Pola pemilahan sejak di tingkat rumah tangga tetap harus didorong. Tidak bisa semua ditumpuhkan di TPA. Karenanya terus kita hidupkan Pusat Daur Sampah, Rumah Komposting dan juga Bank Sampah Malang," tegas Rinawati.

Untuk diketahui, Sanitary Landfill adalah teknologi yang aman bagi lingkungan karena mampu mencegah pencemaran. Lalu bagaimana caranya? Rinawati menerangkan bahwa dengan penimbunan dan pengelolaan air lindi (leachate) serta penangkapan gas methan yang bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi.

Penerapan teknologi Sanitary Landfill dilaksanakan dengan beberapa lapisan. Beberapa di antaranya meliputi penyiapan dan pelapisan lahan pembuangan (sel aktif) TPA. Hal ini biasanya menggunakan tiga lapis penutup tanah seluas kurang lebih delapan hektare (ha).

Jenis lapisan penutup pertama (lapisan paling bawah) berupa bahan gel sintetis setebal kurang lebih satu centimeter (cm). Bagian ini bertugas  menahan kebocoran air lindi agar tidak mencemari tanah. Lapisan kedua dan ketiga berupa karpet sintetis khusus berserat kasar. Seluruh bahan pelapis ini merupakan bahan berkualitas tinggi. Sebab, bahan khusus ini didatangkan langsung dari Jerman.

Selanjutnya, lapisan di atas hamparan karpet pelapis berupa batu koral dengan diameter dua cm. Bagian ini ditumpuk dengan rata setinggi kurang lebih 50 cm. Lapisan tersebut berfungsi sebagai bahan penyaring air lindi sehingga akan merembes di antara bebatuan.

"Di atas tumpukan batuan tersebut, sampah ditaruh dan ditumpuk, diratakan, dan ditimbun tanah setiap ketinggian tanah satu hingga dua meter agar mencegah dihinggapi lalat dan juga dapat mencegah terjadinya kebakaran," kata Rinawati.

Untuk air lindi sendiri nantinya akan ditampung dan disalurkan ke kolam penampungan pengolahan lindi (IPAL/Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan menggunakan sistem pemurnian bertahap yang dilengkapi bak kontrol. Sementara gas methan ditangkap menggunakan pipa agar bisa digunakan sebagai sumber energi.