Anggota DPRD Provinsi Jatim, Diana Amaliyah Verawatiningsih
Anggota DPRD Provinsi Jatim, Diana Amaliyah Verawatiningsih

MALANGTIMES - Anggota DPRD Provinsi Jatim, Diana Amaliyah Verawatiningsih meminta Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa kembali mendesak pemerintah pusat untuk segera melakukan revisi kebijakan impor sampah, terutama sampah kertas. 

Pasalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim pernah mengajukan revisi pada bulan Juni 2019 lalu. Selain itu, telah meminta Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman serta Kementerian Perdagangan, untuk merevisi Peraturan Menteri Perdagangan terkait impor sampah kertas yang terdapat sampah plastik di dalamnya. 

Diana menilai, langkah ini perlu kembali diambil untuk menghindari penyusupan sampah plastik pada setiap transaksi. "Saya menyeru agar Gubernur mendesak kembali pemerintah melakukan revisi pengetatan kebijakan impor sampah," tegasnya. 

"Kementrian terkait harus ada nota bersama terkait impor kertas bekas karena ternyata ada sampah plastik yang jadi ikutan di dalamnya," terang Politikus perempuan PDI Perjuangan ini pada awak media, Minggu,(24/11/2019)

"Lembaga surveyor impornya juga harus lebih tegas. Jika barang yg dikirim tidak sesuai nota, ya harus ada sangsi tegas. Kalau perlu kembalikan ke negara asal," tambah perempuan yang akrab disapa Diana Sasa ini.

Diana Sasa menegaskan, dalam permasalahan ini pemerintah harus lebih mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan korporasi. Pasalnya, sampah kertas yang disusupi plastik itu memiliki banyak efek negatif. Salah satunya, masalah pencemaran udara. 

"Jangan kita mengutamakan kepentingan kapital industri tapi mengorbankan kepentingan hidup rakyat. Kebijakan kita dalam mendukung sektor industri selayaknya juga tidak mengabaikan aspek hajat hidup orang banyak, termasuk keberlangsungan lingkungan untuk hidup dengan layak, tanah sehat udara sehat," tegas Sasa.

"Karena terus menerus terpapar asap pekat warna hitam dari pabrik tahu yang pakai limbah sampah plastik impor, 80 persen warga sekitar terkena ISPA, khususnya perempuan," terang Diana Sasa mengutip apa yang disampaikan Kepala Puskesmas Krian, dr. Titik Sri Harsasih.

Menurut dr Titik,  tiap hari Puskesmas Krian menerima 5 hingga 10 pasien dengan keluhan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Rata rata pasien tersebut bertempat di empat dusun yang ada di wilayah Desa Tropodo. Dan para pasien itu mengeluhkan sesak nafas, batuk, dan radang tenggorokan.

Untuk diketahui, di Jawa Timur Tercatat, sekitar 12 pabrik kertas menggunakan bahan baku kertas impor. Ada 10 negara terbesar pemasok, mulai dari  Amerika Serikat, Italia, Inggris, Korea Selatan, Australia, Singapura, Yunani, Spanyol, Belanda, dan Selandia Baru

Selain itu, Ecoton pernah menyebutkan temuannya terkait sampah rumah tangga yang menyusup pada kertas yang dikirim ke Indonesia, terdapat 35 persen sampah plastik serta sampah rumah tangga lain yang menyusup ke sampah kertas yang dikirim ke Indonesia, tak terkecuali Jawa Timur.(*)