Menteri Agama RI, Fachrul Razi. (Foto: Igoy/MalangTIMES)
Menteri Agama RI, Fachrul Razi. (Foto: Igoy/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Belakangan ini, Kementerian Agama (Kemenag) RI semakin menggencarkan apa yang disebut dengan moderasi beragama. 

Baca Juga : MUI Sebut Puasa Ramadan Bentengi Diri dari Covid-19, Imbau Ibadah di Rumah

Moderasi beragama adalah cara pandang kita dalam beragama secara moderat, yakni memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

"Bahkan sudah masuk dalam agenda nasional, rencana pembangunan-pembangunan jangka panjang menengah 2020-2024 sebagai upaya melawan ekstrimisme beragama secara masif," ucap Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi saat ditemui di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) belum lama ini.

Menag pun akan memberantas paham-paham radikal di Indonesia. 

Khususnya, di kalangan PNS. Lantas, siapa sajakah orang atau organisasi yang masuk kategori radikal? 

Berikut ciri-ciri yang disampaikan oleh Fachrul Razi.

1. Mereka yang merasa paling benar dan intoleran.

Fachrul menjelaskan, dalam ciri ini, mereka tidak bisa menerima orang lain yang berbeda identitas dan pendapat.

"Padahal, Allah SWT menegaskan bahwa ciptaannya dibuat dalam kondisi keberagaman," tegasnya.

Dalam Alquran bahkan dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. 

Keberbedaan atau kebhinekaan, lanjutnya, adalah keniscayaan. Keberagaman pandangan termasuk juga keniscayaan.

"Dan tidak ada satupun manusia yang berhak mengklaim paling benar. Kebenaran hakiki hanya milik Allah," tegasnya.

2. Mereka memaksakan kehendaknya dengan berbagai cara.

Dengan berbagai cara di sini bahkan sampai menghalalkan cara apapun. 

Bahkan dengan memanipulasi agama untuk mencapai keinginan duniawinya.

"Mereka yang radikal ini tak segan-segan menjustifikasi perilaku kriminalnya, melukai atau membunuh orang misalnya, atas penafsiran ayat suci," katanya.

Baca Juga : MUI Sebut Puasa Ramadan Bentengi Diri dari Covid-19, Imbau Ibadah di Rumah

Padahal, dalam agama manapun dan ayat suci manapun, tak ada yang menyuruh kezaliman atas kemanusiaan.

"Agama justru memanusiakan manusia. Syariat diturunkan untuk menjunjung nilai kemanusiaan dan menjaga kehidupan," timpalnya.

3. Mereka yang radikal menggunakan cara-cara kekerasan.

Cara-cara kekerasan ini dilakukan baik verbal maupun tindakan dalam mewujudkan apa yang diinginkannya. Mereka juga tak segan melakukan ujaran kebencian.

"Kami waspadai, ujaran kebencian yang disampaikan oleh ASN atau PNS tidak saja disampaikan, dia memberikan kode setuju tentang sebuah ujaran kebencian dia harus segera dibina lebih lanjut," ungkap Fachrul.

Dan apabila PNS tersebut tidak bisa dibina dan ia tetap pada pemahaman sesatnya maka ia akan diberikan sanksi.

4. Sebagian mereka melakukan tindak kekerasan

Tindakan kekerasan yang dimaksud di sini merupakan kekerasan fisik, mempersekusi kelompok lain atau meledakkan diri di kerumunan orang lain.

"Demikianlah, jika ada ciri itu dalam tindakan seseorang atau kelompok mereka telah menjadi radikalisme negatif," pungkasnya.