Ilustrasi kehamilan (Foto: Istimewa)
Ilustrasi kehamilan (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Angka kelahiran bayi prematur di Kota Malang hingga pertengahan bulan November 2019 ini mencapai tiga sampai empat persen. Meski diklaim mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, tetapi keadaan ini tetap diwaspadai.

Upaya menanggulangi tingkat bayi prematur ini juga terus digencarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Pasalnya, kelahiran sebelum waktu atau prematur merupakan salah satu pemicu yang bisa berakibat juga pada kematian bayi. 

Bahkan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) juga dilibatkan dalam membantu pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Terutama, untuk menekan prevalensi kelahiran bayi prematur. 

Ketua IBI Kota Malang, Lucia Reyne Fieke Ngantung menyatakan sasaran ibu hamil di Kota Malang mencapai 13.209 orang. Artinya dengan kasus bayi prematur tersebut, jumlah persalinannya sudah mendekati angka 12 ribu.

Karenanya, bersama dengan Dinkes, PKK, dan lintas sektor upaya dalam menanggulangi tingkat kelahiran bayi prematur dilakukan. Salah satunya, dengan melakukan pendampingan terhadap ibu hamil dengan memberikan penyuluhan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi).

"Kita mengawal ibu bersama lintas sektor, PKK, Dinkes dan lainnya. Penyuluhan juga selalu digalakkan, mulai dari catin (calon pengantin), kemudian KIE terkait bagaimana menghadapi masa kehamilan, dan persiapan gizinya," ujarnya usai melakukan Audiensi bersama Wali Kota Malang Sutiaji dan Dinkes Kota Malang belum lama ini.

Kelahiran prematur merupakan kelahiran yang terjadi sebelum minggu ke-37 atau lebih awal dari hari perkiraan lahir. Kondisi ini terjadi ketika kontraksi rahim mengakibatkan terbukanya leher rahim (serviks), sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.

Lucia menjelaskan, banyak faktor yang mempengaruhi kelahiran bayi prematur. Dari kurangnya pengetahuan, kemauan dan kemampuan ibu tentang kehamilan salah satunya. Di mana hal itu menjadikan asupan gizi yang masuk berkurang.

"Seperti pemeriksaan kehamilan yang benar masih belum dilakukan, padahal minimal 4 kali selama persalinan. Kemudian memantau pertumbuhan berat badannya minimal 13 kg sampai dengan persalinan. Ketika berat badan itu tidak tercapai, dia jadi pertumbuhannya terhambat pertumbuhannya. Kemudian faktor gizi, faktor stres dan lainnya," imbuhnya.

Terpisah, Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar menyatakan pihaknya selalu rutin melakukan sosialisasi. Bukan hanya terhadap ibu hamil, melainkan kepada perempuan sejak usia remaja hingga catin atau calon pengantin. 

Mulai dari pengenalan alat reproduksi, minum tablet tambah darah FE, gizi persiapan hamil, dan yang lainnya. "Memang pencegahan tersebut bukan untuk ibu hamil saja, tetapi jauh sebelum itu harus dipersiapkan. Karena itu kita rutin melakukan sosialisasi kepada remaja putri dan cati," terangnya. 

"Bisa jadi kondisi gizi ibu cukup, tapi makanan belum tentu sampai kepada calon bayi, misalnya kondisi lingkungan dekat perokok. Nah, hal semacam itu yang harus disiasati bersama," jelasnya.