Kampus UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Kampus UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Bibit radikalisme rawan tumbuh subur di institusi pencetak calon intelektual, yakni perguruan tinggi. Kebanyakan mahasiswa memiliki idealisme yang sangat tinggi. Mereka berada di tengah proses pencarian jati diri. Sehingga rawan disusupi paham yang salah.

Menangani persoalan radikalisme ini, perguruan tinggi keagamaan Islam menjadi harapan besar. Perguruan tinggi keagamaan merupakan harapan penyebar Islam moderat. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) salah satunya.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Berbagai upaya dilakukan UIN Malang untuk memberantas paham radikalisme di Indonesia. Salah satunya melalui Kuliah Tamu "Meneguhkan Nilai-nilai Agama dan Kebangsaan dalam Menangkal Radikalisme Menuju Indonesia Maju" yang akan digelar di Aula Rektorat UIN Malang, Kamis besok (21/11/2019).

Kuliah Tamu ini menghadirkan Menteri Agama RI, Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi, Rektor UIN Malang Prof Dr H Abdul Haris MAg, dan Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar MAg.

Seperti yang diketahui, Kementerian Agama terus berupaya memberantas radikalisme. Dikutip dari laman Kementerian Agama, Fachrul Razi menyampaikan, setidaknya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menangkal radikalisme. Pertama, meningkatkan pemahaman masyarakat dengan pendidikan, termasuk melalui pembinaan mental.

“Semakin luas pemahaman seseorang, maka ia akan semakin bijak dan toleran dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Menag.

Baca Juga : Cegah Covid 19 Pada Lansia dan Anak-Anak, Pemkot Batu Akan Beri Tambahan Nutrisi

Kedua, mainstreaming moderasi beragama. Menurut Menag, moderasi beragama adalah upaya menempatkan bandul selalu di tengah. Meski seseorang harus yakin dan kokoh dengan pemahaman keagamaannya, namun pada waktu bersamaan harus tetap toleran dan memberi ruang bagi keyakinan orang lain.

Ketiga, menginternalisasikan nilai-nilai empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI di dalam aktivitas keseharian.