Sebanyak 32 napi Lapas Wanita Kelas II A Sukun Kota Malang yang diwisuda sebagai guru ngaji, Rabu (20/11). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Sebanyak 32 napi Lapas Wanita Kelas II A Sukun Kota Malang yang diwisuda sebagai guru ngaji, Rabu (20/11). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Label narapidan dianggap sebagai stigma negatif di masyarakat. Namun, Lapas Wanita Kelas IIA Sukun, Kota Malang, ingin mengikis habis stigma itu bagi mantan penghuninya.

Salah satunya lewat kegiatan keagamaan dengan membina napi wanita menjadi guru ngaji. Saat ini ada 32 warga binaan Lapas Wanita Sukun yang dikukuhkan menjadi guru ngaji.

Penyematan tersebut dilakukan setelah para napi santriwati Pondok Pesantren An-Nisa menjalani pembelajaran selama kurang lebih empat bulan terakhir hingga akhirnya diwisuda pagi ini (Rabu, 20/11). Para santriwati juga mendapatkan sertifikasi yang menandakan mereka telah layak sebagai guru ngaji.

Kepala Lapas Wanita Kelas A II Sukun Ika Yustanti mengatakan kegiatan pembinaan yang dilakukan di Lapas Wanita telah berdasarkan amanat pemerintah. Salah satunya pembinaan kepribadian dengan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Warga binaan yang beragama Islam dibekali berbagai ilmu agama, cara membaca Alquran yang baik dan benar. Dan hari ini dibuktikan dengan yang menjadi santriwati. Ada 32 yang sudah lulus bacaan Alquran dari tartil dan tajwidnya," ujar dia.

Dengan dikukuhkannya 32 santriwari tersebut, Lapas Wanita Sukun mengharapkan para napi bisa menerapkan ilmu mengaji yang telah didapatkan. Ketika di lapas misalnya, mereka bisa memotivasi dan membantu pembelajaran bagi napi lainnya. Demikian pula ketika sudah berada di luar lapas, ilmu tersebut bisa diamalkan kepada masyarakat umum.

"Paling tidak mereka memiliki bekal hidup kelak setelah keluar dari lapas. Menciptakan lapangan kerja ya, apalagi sudah memiliki sertifikat. Sehingga stigma-stigma negatif yang kerap muncul di lingkungan masyarakat terhadap seorang napi itu kami harapkan juga menghilang karena napi dibina dan mereka punya hasil," ungkap Ika.

Bahkan, tidak hanya warga binaan yang beragama IslamĀ  yang diwadahi di Lapas Wanita Sukun. Pihak lapas juga menyediakan tempat ibadah bagi agama lain. Sehingga pembinaan dan pembentukan mental berjalan optimal bagi semua penghuni Lapas Wanita Sukun.

Sementara itu, salah satu napi narkotika yang lulus diwisuda sebagai santriwati kali ini, Eni Parwati, menyatakan dirinya senang dan bangga dengan prestasi yang ia dapatkan. Dia mengaku mendapat hukuman kurungan penjara selama 4,5 tahun dan saat ini tersisa 6 bulan kurungan saja.

Nantinya, dari kemampuan tersebut, Eni akan meneruskan sebagai ladang ilmu bagi masyarakat lainnya. "Dengan pembinaan ini, kan saya jadi mendalami agama, yang sebelumnya tidak bisa menjadi bisa. Insya Allah akan meneruskan kepada teman-teman yang belum lulus. Kami bantu belajarnya. Nanti juga kalau sudah keluar, inginnya tetap melanjutkan. Mungkin dengan mengajarkan kepada lingkungan di sekitar saya," ungkap wanita 28 tahun itu.