Para peserta seni bela diri Eskrima saat menghadiri sesi Woman Basic Self Defense with Eskrima (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Para peserta seni bela diri Eskrima saat menghadiri sesi Woman Basic Self Defense with Eskrima (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Kewaspadaan diri masing-masing individu menjadi sebuah keharusan. 

Tanpa kecuali untuk perempuan saat melakukan aktivitas, utamanya di luar ruangan. 

Sebab kejahatan sangat mungkin terjadi kapan pun dan di manapun.

Salah satu seni bela diri yang mungkin cocok untuk dipelajari para perempuan sepertinya adalah Eskrima. 

Seni bela diri asal Filipina ini sekarang mulai ngetrend di kalangan anak-anak hingga dewasa.

Perempuan pun mulai tertarik mempelajari sederet trik yang dipelajari dalam seni bela diri Eskrima.

Karena selain memiliki gerakan yang beragam, seni bela diri Eskrima ini juga dapat mengasah daya respons seseorang, terutama saat melawan penjahat dengan tangan kosong.

Guru Muda Eskrima Nusantara Jawa Timur, Kiky Rizky Lubis menyampaikan, secara mendasar Eskrima merupakan seni bela diri yang menggunakan senjata berupa tongkat. 

Karena tongkat menjadi senjata yang tak dapat dideteksi penjajah sebagai bentuk perlawanan masyarakat Filipina.

Selain tongkat, senjata lain yang digunakan berupa benda tajam, dan tataran tertinggi adalah tanpa menggunakan senjata atau tangan kosong.

Perlawanan dengan tangan kosong ini merupakan tataran yang paling tinggi dalam Eskrima.

"Ini perbedaannya dengan seni bela diri dari negeri kita. Biasanya kan dimulai dengan tangan kosong kemudian menggunakan senjata. Kalau Eskrima dibalik, senjata dulu baru tangan kosong," katanya pada MalangTIMES di sela kegiatan Woman Basic Self Defense with Eskrima yang digelar, Minggu (17/11/2019).

Gerakan-gerakan dasar dalam Eskrima menurutnya akan melatih daya respons masing-masing orang. 

Sehingga akan sangat mudah tanggap saat memberi perlawanan, baik tindak kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan senjata maupun tidak.

Lebih jauh dia menyampaikan, bela diri eskrima secara tidak langsung akan melatih gerakan seseorang untuk memanfaatkan setiap benda sebagai senjata. Mulai dari senter, bulpoint, binder, hingga smartphone.

"Jadi ini juga melatih seseorang terutama perempuan untuk memberi perlawanan menggunakan benda yang mereka bawa sehari-hari," jelas Kiky.

Dia juga menjelaskan, perempuan harus tetap memperhatikan keamanan diri saat memberikan perlawanan kepada penjahat. 

Di antaranya memperhatikan titik lemah dari lawan. Salah satunya pada bagian pelipis, leher atau tenggorokan, perut, hingga paha dalam dan urat nadi.

"Saat di serang, langkah utama adalah sakiti lawan kemudian tangkap dan hajar. Kemudian saat lawan lengah harus ditinggal lari. Karena bagaimana pun fisik perempuan masih kalah dengan fisik laki-laki," jelas dia.

Dia juga menegaskan jika trik utama yang harus diperhatikan saat melakukan perlawanan adalah memperhatikan fisik lawan, dan tak terlalu fokus pada senjata. 

Karena perlawanan yang diberikan harus tetap memperhatikan pikiran yang jernih dan tak emosi.

Menurutnya, seni bela diri Eskrima ini tak hanya dikhususkan untuk orang dewasa saja. 

Anak-anak sejak usia empat tahun sangat diperbolehkan untuk melakukan pelatihan Eskrima secara mendasar.

"Anak-anak bisa untuk berlatih Eskrima," pungkasnya.

Sementara itu, kegiatan Woman Basic Self Defense with Eskrima itu sendiri diikuti oleh mahasiswi hingga ibu rumah tangga yang secara sengaja ingin mengasah ketangkasan mereka.

Terutama untuk meningkatkan kemampuan menjaga diri.