Debu atau tanah yang dibawa angin berada di langit Kecamatan Bumiaji, Minggu (17/11/2019) pagi. (Foto: istimewa)
Debu atau tanah yang dibawa angin berada di langit Kecamatan Bumiaji, Minggu (17/11/2019) pagi. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Saat terjadinya bencana alam angin kencang yang melanda kawasan Kecamatan Bumiaji satu bulan yang lalu kecepatannya maksimum mencapai 80 kilometer (km) per jam. Namun meski masih terasa kencang, embusan angin di wilayah tersebut saat ini mengalami penurunan kecepatan di angka 25 - 35 km/jam.

“Untuk kondisi angin saat ini tercatat sekitar 25 - 35 kilometer per jam,” ungkap Supervisor Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu, Ismu Buana.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Karena itu, BPBD Kota Batu hingga saat ini terus memantau pergerakan angin. Melihat pengalaman sebelumnya, peringatan bahaya akan dikeluarkan ketika kecepatan angin mencapai 45 km/jam.

“Angin yang memiliki kecepatan 60 km/jam bisa menjadi angin puting beliung. Jadi jika sudah mencapai 45 km/jam, kita akan beri peringatan kepada warga,” ungkap Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu, Achmad Choirur Rochim

Angin kencang itu kembali menyerang kurang lebih pukul 06.30 WIB. Kondisi saat ini di sana suasana terlihat di langit atau udara berwarna cokelat.

Kondisi ini tidak jauh beda saat satu bulan yang lalu kejadian serupa melanda Desa Sumber Brantas. Jika dilihat dari kejauhan, kepekatan debu itu juga tampak menghalangi pandangan.

Baca Juga : Mokong Keluyuran Malam Hari, Warga Jalani Rapid Test Covid-19 di Tempat

Debu itu bisa bisa naik di langit atau udara, lantaran kondisi tanah kering, kemudian dibawa oleh angin. Kemudian aliran listrik dari PLN di sana kondisinya masih menyala. Lalu juga belum terpantau adanya pohon tumbang di sekitar lokasi angin kencang.

“Sedangkan untuk kerusakan bangunan masih menunggu laporan dari warga setempat dan situasi di lapangan belum memungkinkan untuk melaksanakan pendataan,” imbuhnya.

Di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji area pertanian apel juga menjadi imbasnya. Kebun apel di sana buah apel berjatuhan karena angin. Padahal, ukuran apelnya masih kecil-kecil.