Johan Wahyudi indosport.com
Johan Wahyudi indosport.com

MALANGTIMES - Bulutangkis Indonesia berduka karena salah satu mantan atlet terbaiknya meninggalkan dunia pada Jum'at (15/11/2019) siang tadi. Ya dia adalah Johan Wahyudi yang khususnya di mata PBSI Kota Malang adalah seorang guru dan pembimbing yang sangat baik.

Kota Malang sempat memiliki putra daerah yang namanya melanglang buana hingga ke mancanegara karena mampu menjuarai gelaran elit bertajuk All England sebanyak enam kali dari dekade 70 hingga 90an silam.

Baca Juga : Mengenal Jenderal Mayor Imam Soedjai, Tokoh Perjuangan Malang-Lumajang yang Belum Banyak Dikenal

Mengenang kepergian Johan Wahyudi, sosok pria yang lahir pada 10 Februari 1953 ini membuat PBSI Kota Malang bersedih karena kehilangan salah satu guru atau pembimbing yang selalu memberikan saran. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris PBSI Sigit Permadi.

"Pak Johan Wahyudi itu orangnya baik, supel dan sering memberi saran kepada kami dalam hal ini PBSI Kota Malang. Bahkan kalau diajak diskusi beliau memberi masukan dengan enak dan dari cara bicaranya ini nyambung," kenang Sigit.

Diakui Sigit, waktu ia kecil sempat melihat bagaimana kehebatan sosok Johan Wahyudi ketika memegang raket dan bertanding. "Bagi saya, pak Johan Wahyudi ini adalah sosok yang dulu menjadi idola. Mungkin memang anak-anak zaman sekarang belum tahu, tapi seumuran saya pasti tahu beliau," katanya.

Sementara itu, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir Johan Wahyudi juga sering berdiskusi dan memberi masukan kepada PBSI Kota Malang. Bahkan dalam kejuaraan dunia yang digelar di GOR Ken Arok, pasangan Tjun Tjun di All England ini sempat melihat dan tidak ingin duduk di kursi kehormatan.

Baca Juga : Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Imam Santoso: Digital Agroindustri Sudah Menjadi Keniscayaan

"Beliau juga orangnya sangat humble dan banyak memberi masukan kepada kami para pengurus PBSI Kota Malang. Pernah itu ketemu saya waktu kejuaraan dunia Yuzu kemarin saya bertemu beliau, lalu saya persilahkan duduk di kursi kehormatan tapi beliau tidak mau dan duduk bersama penonton, itu mungkin kenangannya," pungkasnya.