Tersangka LM (duduk di kursi roda) saat digelandang petugas ke ruang penyidikan sebelum sesi rilis berlangsung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Tersangka LM (duduk di kursi roda) saat digelandang petugas ke ruang penyidikan sebelum sesi rilis berlangsung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - LM warga Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang yang diringkus anggota Satreskrim Polres Malang lantaran kasus pencurian, ternyata merupakan seorang residivis. Pernyataan itu muncul dari mulut tersangka, saat MalangTIMES.com mencoba menanyakan sepak terjang salah satu anggota komplotan pencurian yang ketika beraksi selalu bersenjatakan celurit tersebut.

”Tahun 2004 lalu saya juga pernah dipenjara karena kasus yang sama seperti sekarang. Kasus 365 (Tindak pidana pencurian dengan kekerasan),” celetuk LM kepada wartawan, usai sesi rilis berakhir, Jumat (15/11/2019).

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Meski sudah sempat berupaya meninggalkan dunia kriminalitas, pada tahun 2017 lalu pria 41 tahun itu kembali melancarkan aksi pencurian. Sasarannya adalah pasutri (pasangan suami istri) asal Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang.

Korbannya adalah Syaiful Afandi dan istrinya bernama Mustolifah. Akibat dijadikan sasaran pencurian, korban yang kesehariannya bekerja sebagai seorang guru ini harus mengalami kerugian mencapai ratusan juta.

Hal itu dikarenakan berbagai barang berharga milik kedua korban, yang meliputi uang tunai senilai Rp 30 juta, beragam perhiasan emas dengan berat total sekitar 50 gram, dua unit handphone (HP), satu unit sepeda motor Vario nopol N-3642-IQ, serta dompet berisi surat berharga milik korban raib dibawa kabur oleh komplotan pencuri yang beranggotakan 4 orang pelaku tersebut.

”Saya terpaksa kembali mencuri karena diajak oleh keponakan, dia saat ini masih DPO (Daftar Pencarian Orang). Ketika diajak, saya dikenalkan dengan dua orang pelaku lainnya, yang terlebih dulu sudah ditangkap polisi sesaat setelah melancarkan aksi pencurian dulu,” keluh LM.

Mengetahui jika kedua temannya sudah diringkus polisi, tersangka LM memilih melarikan diri ke Kalimantan. Sekitar 1,5 tahun di sana, pria itu memilih bersembunyi di rumah saudaranya yang ada di Kabupaten Ponorogo.

”Saya kembali ke jawa karena anak saya yang bungsu selalu menanyakan kapan saya pulang. Terenyuh, gak tega, jadi saya pulang saja ke tempat sodara biar bisa sewaktu-waktu pulang ke Malang,” ungkap pria 2 orang anak ini.

Namun, keputusannya itu justru membuat polisi berhasil mengendus keberadaannya. Hingga akhirnya, pada Rabu (13/11/2019) lalu, anggota Buser (Buru Sergap) Satreskrim Polres Malang meringkus dirinya dibtempat perembunyiannya tersebut.

”Istri saya kerja di Bali, karena kepepet kebutuhan saya akhirnya bersedia saat diajak mencuri. Setiap beraksi saat dapat bayaran Rp 3 juta,” terang tersangka LM.

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid 19, Pelaku Curnamor Makin Liar, Sehari Dua Motor Digasak

”Kapok, saya tobat dan tidak akan mengulanginya lagi (mencuri),” sambung LM dengan nada menyesal.

Seperti yang sudah diberitakan, tersangka LM merupakan salah satu dari 4 anggota pencurian. Setiap beraksi, komplotan yang sering meresahkan warga ini, membekali dirinya dengan senjata tajam (sajam) jenis celurit.

Senjata yang dibawa itu diakui pelaku, digunakan untuk mengancam dan melukai korban jika melakukan perlawanan. Hingga saat ini sudah ada 3 tersangka yang diamankan polisi. Sedangkan satu sisanya masih berstatus DPO.

Ketika diamankan petugas pada tiga hari lalu, polisi terpaksa melumpuhkan kedua kaki tersangka LM lantaran melakukan perlawanan saat hendak diamankan petugas.

Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 365 KUHP tentang tindak pidana Curas (pencurian dengan kekerasan). Sedangkan ancamannya maksimal 9 tahun kurungan penjara.