Masuki Era Sastra Digital, Ini Tantangan Para Sastrawan

Nov 15, 2019 18:40
Dekan Fakultas Humaniora UIN Malang, Dr Hj Syafiyah MA. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Dekan Fakultas Humaniora UIN Malang, Dr Hj Syafiyah MA. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Rupa sastra terus berkembang seiring perkembangan zaman. Internet dan media sosial kini melahirkan apa yang disebut sastra digital atau cyber literature. Bisa juga disebut sastra cyber ataupun sastra milenial, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, di luar sana ada beberapa yang kontra terhadap adanya sastra digital tersebut. Bahkan tak memperhitungkan karya sastra digital karena menganggapnya termasuk dalam kelompok sastra pinggiran lantaran dianggap main-main dan tidak serius.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Malah, ada yang mengecap sastra digital sebagai sastra yang lebih pantas masuk tong sampah. Dikatakan demikian karena sastra cyber merupakan karya-karya yang tidak tertampung atau ditolak oleh media sastra cetak.

Namun pandangan tersebut berbeda dengan pandangan Dekan Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Dr Hj Syafiyah MA kepada Malangtimes.com. 

Baginya, sastrawan malah harus mengikuti perkembangan digital apabila masih ingin didengar.

"Harus memanfaatkan teknologi digital untuk menyampaikan karya-karyanya," ucapnya kepada MalangTIMES, Selasa (5/11/2019).

Alih-alih bertahan di sastra cetak, sastrawan malah harus memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan karya-karyanya.

"Kalau dulu hanya lewat media cetak atau majalah. Sekarang ini ada teknologi informasi yang bisa dimanfaatkan sedemikian rupa," katanya.

Bagi sastrawan yang menolak untuk memanfaatkan kemewahan di era teknologi ini maka sudah pasti suaranya akan sulit terdengar.

"Kalau misalkan itu tidak dimanfaatkan maka justru karyanya yang tidak akan dibaca," ungkapnya.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Karya tersebut tidak akan dibaca utamanya oleh kaum milenial. Sebab keseharian hidup para milenial, kata Syafiyah, tak bisa lepas dari gadget dan medsos.

"Tak bisa lepas dengan perangkat teknologi informasi. Sebagian besar kehidupan mereka ya melalui itu," imbuhnya.

Maka kalau ada orang, dalam hal ini sastrawan, yang kemudian tidak mau memanfaatkan perangkat teknologi informasi, maka karyanya akan menjadi sia-sia lantaran tak didengar.

"Kalau mau mempertahankan diri dengan cara lama, tidak mau memanfaatkan perangkat teknologi informasi, ya mereka tidak akan didengarkan. Suara mereka tidak akan didengarkan oleh generasi milenial," tegasnya.

Saat ini, pilihan ada pada sastrawan itu sendiri. Mau mempertahankan karyanya dalam bentuk cetak atau mengikuti gelombang teknologi informasi.

"Sekarang kita tinggal memilih. Kita mau hidup terisolir, punya idealisme yang luar biasa, tapi apa artinya idealisme kita kalau kemudian itu tidak didengarkan," pungkasnya.

Topik
MalangBerita MalangDekan Fakultas UIN Malang Dr Hj Syafiyah MAsastra digital cyber literaturedi malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru