Ilustrasi HIV/AIDS (Foto: Istimewa)
Ilustrasi HIV/AIDS (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Permasalahan HIV/AIDS di Kota Malang masih dinilai krusial. Saat ini saja, catatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) angka penemuan pengidap HIV/AIDS akumulatif dari tahun 2005 hingga 2019 mencapai lebih dari 3000 penderita.

Dari angka tersebut, menjadikan kasus pasien HIV/AIDS di Kota Malang menempati posisi ke 2 se-Jawa Timur, setelah Surabaya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, mencatat kepatuhan konsumsi anti retroviral (ARV) bagi penderita HIV/AIDS atau ODHA masih minim. Berdasarkan 3000 klien, baru tercatat sekitar di angka 1200-an saja yang mengakses pengobatan.

"Dari akumulasi angka pengidap HIV/AIDS tersebut memang masih ada yang tidak mengakses pengobatan," ujar Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) dinkes Kota Malang, dr Husnul Muarif.

Bahkan dari sejumlah klien yang telah mengakses pengobatan itu, khusus KTP Kota Malang baru 30 persen saja. Penderita penyakit itu, lanjut dia bisa berobat di lima tempat layanan kesehatan di Kota Malang. Yakni, RS Saiful Anwar, RST Dr Soepraoen, RS Unisma, Puskesmas Dinoyo, dan Puskesmas Kendalsari.

"Dari total itu, yang mengakses pengobatan saat ini di lima tempat itu khusus yang ber-KTP Kota Malang hanya 30 persen saja," imbuhnya.

Padahal, kepatuhan minum ARV bagi penderita HIV/AIDS itu wajib. Sebab, jika minim mengkonsumsi ARV dikhawatirkan malah memperparah kondisi penderita. 

Sebaliknya, jika rutin minum obat dam melakukan pengobatan secara rutin dapat membuat viral load jadi 0 atau virus HIV/Aids dalam tubuh tidak bisa menular. Kendati, status penderita masih tetap sebagai ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Lebih lanjut, ia menilai jika keadaan tersebut terjadi karena beberapa kendala. Mulai dari semangat dari pasien sendiri, dukungan dari keluarga, hingga faktor lingkungan sangat mempengaruhi seorang penderita HIV/AIDS.

"Akses layanan yang mungkin jauh juga bisa jadi kendala ya, lalu berita yang beredar di kalangan penderita HIV/AIDS ada yang bilang obatnya banyak efek samping, rasanya tidak enak dan lainnya. Belum mengakses, udah dengar itu akhirnya nggak jadi berobat," pungkasnya.