Tangkapan layar SK Kemendikbud RI terkait finalis OPSI 2019, terdapat dua pelajar Kabupaten Malang yang masuk dalam daftar.
Tangkapan layar SK Kemendikbud RI terkait finalis OPSI 2019, terdapat dua pelajar Kabupaten Malang yang masuk dalam daftar.

MALANGTIMES - Prestasi membanggakan diukir dua pelajar sekolah menengah pertama negeri (SMPN) di Kabupaten Malang. Karya kedua pelajar itu berhasil masuk dalam jajaran finalis Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Tingkat Nasional tahun 2019 ini. 

Membuat karya ilmiah yang responsif terhadap kebutuhan lingkungannya, dua pelajar ini mampu nangkring sebagai finalis ajang bergengsi yang digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama.

Kedua pelajar tersebut yakni Iswardany Rezafarabi dari SMPN 1 Tumpang dan Utari Suryaningrat dari SMPN 2 Sumberpucung. Karya mereka terpilih setelah bersaing dengan 875 pelajar se-Indonesia. 

Karya Iswardany, masuk finalis di bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan Lingkungan. Dia menyusun penelitian berjudul 'Solar Radiation Head Detector' untuk menanggulangi kebakaran hutan. 

Sementara Utari, mengangkat tema 'Javanese Area dan Kamus Kecik' sebagai sarana peningkatan karakter santun pada siswa. Penelitiannya itu masuk final di bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan dan Seni. 

Nama dan judul karya mereka berdua, tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 4858/D3/KP/2019.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Rachmat Hardijono menyampaikan apresiasi atas prestasi tersebut. "Kita tentu bangga dengan raihan dua pelajar itu. Ini membuat dunia pendidikan Kabupaten Malang berada di jalur tepat dalam meningkatkan prestasi di tingkat nasional,” ucapnya, Jumat (15/11/2019).

Dia juga berharap, prestasi seluruh pelajar yang ada di bawah naungan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang terus meningkat. “Teruslah berprestasi sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Baik untuk diri pelajar maupun sekolahan. Sehingga, dunia pendidikan di Kabupaten Malang akan semakin terangkat dan maju," tuturnya.

Rachmat pun berpesan agar guru-guru di sekolah bisa memberikan pendampingan yang maksimal. Sehingga, karya siswa bisa mendapat tempat di tingkat nasional, bahkan internasional. "Bagi para guru pun, terus untuk tingkatkan kemampuannya dalam mendampingi para siswa,” tambahnya.

Dua penelitian pelajar SMPN Kabupaten Malang ini diharapkan bisa mencatatkan juara di tahap final. Rachmat menyebut, Dinas Pendidikan mengajak masyarakat turut mendoakan anak-anak Bhumi Kanjuruhan itu bisa mengharumkan nama daerah. “Tentu kita berharap baik, bahwa inovasi para pelajar kita ini bisa menjadi juara dalam OPSI 2019 ini,” tandas Rachmat.

Terpisah, Utari Suryaningrat yang merupakan ketua tim dari SMPN 2 Sumberpucung, menyampaikan bahwa penelitian yang diangkatnya sebagai bentuk keterlibatan untuk melestarikan bahasa Jawa asli di kalangan pelajar.

“Penelitian kita terkait Kamus Kecik ini memang ditujukan sebagai panduan bagi siswa untuk menggunakan bahasa Jawa. Kamus Kecik ini merupakan buku kecil berisi kosa kata dan kalimat sederhana bahasa Jawa,” ujar pelajar kelas IX ini.

Penelitian dari tim siswa SMPN 2 Sumberpucung ini juga berawal dari keprihatinan para pendidik terhadap para pelajar yang semakin banyak tidak mengetahui bahasa Jawa asli. Bertolak dari hal itulah, para guru pembimbing OPSI 2019 dari SMPN 2 Sumberpucung, mengarahkan siswanya untuk mengangkat persoalan tersebut.

Ninik Sri Utami, guru pembimbing OPSI SMPN 2 Sumberpucung membenarkan hal itu. Dia menyampaikan, penelitian para siswanya yang masuk jadi finalis karena mengangkat fenomena yang memang tengah terjadi di lingkungan pendidikan di berbagai daerah di Jawa. 

“Banyak siswa yang malah tidak tahu bahasa Jawa asli. Padahal dengan memahami bahasa Jawa akan juga membentuk kesantunan dalam berkomunikasi. Kesantunan ini akan berdampak pada pembiasaan EQ (emotional quoetiont) anak, dan membentuk perilaku positif lainnya,” urai Ninik.

"Jika anak sudah santun, maka akan lebih nggugu (memperhatikan) dan responsif pada guru, sehingga akan lebih menghormati dan memperhatikan pelajaran yang diterima," imbuhnya.

Sementara, penelitian yang dilakukan oleh Iswardany yang 'Solar Radiation Head Detector berawal dari maraknya kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Pengembangan sistem deteksi ini, diharapkan mampu menanggulangi kebakaran hutan. Terutama, bisa menjadi bagian dalam meminimalkan kejadian kebakaran yang kerap terjadi setiap tahun di musim kemarau melalui pencegahan dini.