Dosen Unisma Kupas Sastra dan Politik Era Reformasi di Coffee Times

Nov 15, 2019 07:00
Suasana Diskusi Budaya 'Sastra dan Politik di Era Reformasi' di Coffee Times, Kamis malam (14/11) (Arifina Cahyanti Firdausi/ MalangTIMES)
Suasana Diskusi Budaya 'Sastra dan Politik di Era Reformasi' di Coffee Times, Kamis malam (14/11) (Arifina Cahyanti Firdausi/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keberadaan sastra, sudah sejak dahulu digeluti penikmatnya. Tokoh-tokoh sastrawan bahkan bermunculan seiring perkembangan zaman. Mereka menelurkan beragam karya puisi yang indah, bahkan terkadang juga mengkritisi pemerintah atau dunia politik.

Taufik Ismail, Muchtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, Sitor Situmorang, W.S Rendra, Wiji Thukul ini beberapa seniman sastra yang mampu mengkritisi rezim pemerintahan. Hal tersebut dikupas dalam Diskusi Budaya 'Sastra dan Politik di Era Reformasi' di Coffee Times, Terminal Kopi Malang (TKM), Pasar Terpadu Dinoyo lantai 2, Kamis malam (14/11).

Baca Juga : Masuki Era Sastra Digital, Ini Tantangan Para Sastrawan

"Berbicara Sastra dan Politik Era Reformasi, kita tidak bisa melepaskan diri dari seorang penyair yang sampai sekarang tidak terlepas dari dunia politik. Taufik Ismail, W.S Rendra, Wiji Thukul, sampai sekarang masih memiliki kesan akan karyanya. Wiji Thukul sebagai peoloppr ngamen sambil baca puisi di eranya," ungkap Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PBSI-FKIP) Universitas Islam Malang (Unisma), Akhmad Tabrani.

Sayangnya lanjut dia, keberadaan sastrawan pengkritisi tersebut yang berkaitan dengan dunia politik telah menghilang. Banyak dari mereka yang akhirnya malah masuk penjara, padahal lewat karya mereka keganjulan dalam ranah politik bisa tersampaikan.

Ia menambahkan, Sastra dan Politik seolah mati suri karena sudah tidak ada lagi yang memperjuangkan kritikan melalui makna yang indah dalam bait puisi. "Tema besar dalam memperjuangkan hak warga Indonesia, mengkritisi penguasa sudah tidak ada. Sastra reformasi hampir kehilangan kata-kata, tapi bukan berarti sastra lainnya mati. Ini hanya sastra dan politik," imbuhnya.

Terlebih di era 4.0 saat ini, hampir semua orang bisa menjadi sastrawan. Hanya modal ketikan kata-kata misalnya, kemudian diposting di sosial media akan sangat gampang dianggap penyair.

Baca Juga : Di Arab, Sastra Dijunjung Tinggi sebagai Penjaga Bahasa dan Budaya

Namun, ia berharap lewat Diskusi Budaya kali ini para mahasiswa penggiat sastra mampu untyk membuat karya yang bukan hanya sekedar puisi cinta. Tetapi bagaimana bisa berani dalam melawan tirani politik.

"Karena melalui sastra, bagian terindah bagi kehidupan manusia, bahkan di kehidupan modern akan menjadi salah satu karya peradaban yang paling canggih. Kritis sastrawan menentang hegemoni penguasa amat wajar. Mereka mengemas tulisan dengan bahasa yang indah. Terstruktur dan mempunyai kandungan sastra tinggi," tutupnya.

Topik
Dosen UnismaAkhmad TabraniDiskusi BudayaSastra dan Politik di Era Reformasi

Berita Lainnya

Berita

Terbaru