Drs Kusnadi MA, ketua Pusat Pendirian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Universitas Jember. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Drs Kusnadi MA, ketua Pusat Pendirian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Universitas Jember. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Presiden Joko Widodo (Jokowi)  dalam pidato pertamanya di hadapan sidang MPR RI pada 20 Oktober 2014 lalu mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak lagi memunggungi laut, samudera, selat, dan teluk.

Jokowi menginginkan kembali kejayaan maritim negara seperti pada masa lalu. Yakni ketika Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit menjadi kerajaan maritim terbesar di Nusantara atau di belahan selatan bumi.

Pidato Jokowi pun memantapkan ulang pemikiran Bung Karno pada tahun 1963 agar laut menjadi pembangun bangsa yang kuat, sentosa, dan sejahtera. Juga konsepsi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menginginkan potensi kelautan nasional menjadi basis pembangunan masa depan bangsa.

Upaya menjadikan laut sebagai "soko guru" pembangunan nasional sendiri merupakan ikhtiar memperkuat kapasitas negara, menyejahterakan rakyat, dan menghadapi kompetisi global.

Hal ini disampaikan  Drs Kusnadi MA, ketua Pusat Pendirian Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Universitas Jember (Unej) dalam Seminar Nasional Maritim Nusantara: Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia dengan tema "Integrasi Budaya Daratan dan Maritim Menuju Peradaban Nusantara Masa Depan" di auditorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB) lantai 8, Kamis (14/11/2019).

"Komitmen Jokowi dielaborasi lebih lanjut dalam konsepsi Indonesia sebagai poros maritim dunia (PMD)," ucapnya.

Menurut Kusnadi, implementasi konsepsi Indonesia sebagai PMD agar lebih efektif berkembang dan produktif membutuhkan "lahan yang subur dan luas" yang disebut Indo-Pasifik. "Pekarangan ASEAN yang di dalamnya ada Indonesia dipandang kurang mencukupi untuk mewujudkan pilar-pilar yang menopang Indonesia sebagai PMD," imbuhnya.

Sementara posisi strategis Indonesia di antara dua samudera, Pasifik dan Hindia, dan di antara dua benua, Asia dan Australia, memang tepat jika perluasan kiprahnya mencakup kawasan Indo-Pasifik.

"Medan yang luas, kemitraan dan banyak negara, serta aspek-aspek pembangunan yang kompleks mendorong Indonesia untuk memperkuat kapasitas diri dan daya saing sebagai persyaratan pokok terlibat dalam pembangunan di kawasan Indo-Pasifik," paparnya.

Penguatan kapasitas diri, lanjut dia, dilakukan dengan memperkuat orientasi pembangunan negara maritim. Ditambah lagi, yang perlu direnungkan dengan saksama adalah perubahan cara pandang tentang darat, laut, dan manusianya, baik penduduk lokal maupun para pendatang.

"Hubungan ketiga unsur itu harus diletakkan dalam satu kesatuan kosmos yang integral, bukan terpisah," tandasnya.