Ilustrasi buzzer yang kini ramai didengungkan warganet terkait tangkap buzzer teroris (alinea)
Ilustrasi buzzer yang kini ramai didengungkan warganet terkait tangkap buzzer teroris (alinea)

MALANGTIMES - Peristiwa bom bunuh diri Medan masih hangat diperbincangkan di berbagai ruang. Tak terkecuali di dunia maya melalui berbagai platform media sosial (medsos). 

Warganet pun kembali melahirkan berbagai macam tagar dalam upaya melawan berbagai aksi teror serta mengajak masyarakat luas untuk bersatu mengumandangkan suara perlawanan.

Seperti tagar #TangkapBuzzerTeroris yang kini jadi salah satu trending topik Twitter dengan percakapan mencapai 10,2 ribu cuitan, Kamis (14/11/2019) siang.

Tagar itu dihits-kan oleh warganet dikarenakan mereka mulai resah dan marah dengan para buzzer yang kerap juga melahirkan tagar bertentangan terkait aksi radikalisme yang terus terjadi di Indonesia. Mereka menganggap para buzzer inilah yang kerap mengaburkan sekaligus menyebarkan tindakan radikal, seperti penusukan Wiranto serta peristiwa lainnya, sebagai bentuk rekayasa pemerintah.

Hal ini misalnya disampaikan oleh @Dwiyana_DKM, "Menurut Pakar Terorisme @ridlwandjogja pd kasus penusukan Wiranto, akun2 buzzer teroris di medsos, trbukti ikut2an mengaburkan fakta. Mrk brupaya menyebarkan informasi bhw kasus tsb adlh rekayasa pmth. utk pengalihan isu. Sudah saatnya pemerintah tegas #TangkapBuzzerTeroris," cuitnya, Kamis (14/11/2019).

Tagar  #TangkapBuzzerTeroris bukan tak ada tandingan. Bahkan, menurut beberapa warganet yang mencuitkan berbagai peristiwa teror, terakhir di Medan, mendapatkan juga tentangan dari warganet lainnya. Seperti yang disampaikan oleh Chusnul chotimah dengan akun @CH_chotimah.

"Sy bikin twet dgn narasi jk aksi teror itu bkn mati syahid tp mati jahiliyah, diprotes katanya itu provokasi, jilbab disuruh buka, twet2ku dibilang menyudutkn Islam pdhl menyudukn teroris & akhirnya dibilang bkn Islam. Buzzer teroris?," tulisnya sambil menyematkan #TangkapBuzzerTeroris.

Lantas siapakah yang disebut buzzer yang secara bahasa diambil dari kata bahasa Inggris dengan artian lonceng atau alarm yang berfungsi untuk  memanggil, memberitahu dan mengumpulkan orang untuk berkumpul atau melakukan sesuatu. 

jr_kw19 menuliskan, "Mereka yg selalu membantah dan mengaburkan aksi terorisme dengan berbagai cara, seperti mengangkat isu rekayasa, cocoklogi dsbnya mereka itulah para Buzzer Terorisme dan aparat harus segera mengamankan mereka #TangkapBuzzerTeroris," ujarnya.
Warganet lain menyampaikan buzzer teroris dalam Tahar yang ramai saat ini adalah mereka yang tidak simpatik pada korban serta kerap menyuarakan bahwa peristiwa itu adalah aksi rekayasa, pengalihan isu dan ujaran kebencian.

"Cara teroris bkerja tdk hnya didunia nyata, melainkan jg didunia maya. Ada bnyak bnget mrka yg jdi digital teroris. Ciri2 nya apa? Mereka tdk bersimpati pda korban & mengatakan ini adlah aksi rekayasa, pengalihan isu & ujaran kebencian #TangkapBuzzerTeroris," cuit @__YulitaSari.
Berbagai suara warganet terkait adanya buzzer teroris inilah yang membuat mereka membuat tagar agar pemerintah untuk tegas melakukan penindakan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di Indonesia.

@Andreasady666 pun menunggu langkah tegas pemerintah terhadap keberadaan buzzer teroris maupun para teroris. "Menunggu tindakan tegas dari @DivHumas_Polri Untuk menangkap orang2 yg memanipulasi Agama untuk tujuan tertentu..," cuitnya.
Tak hanya masyarakat di dunia maya yang meminta kepada pemerintah untuk bertindak tegas terhadap para pelaku aksi teror, baik di dunia nyata maupun maya. Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengatakan pemerintah harus menertibkan buzzer nakal yang memanipulasi fakta dan opini publik karena membahayakan persatuan dan kesatuan negara. 

"Buzzer yang memanipulasi opini publik, memanipulasi fakta, harus dihapuskan karena bukan hanya membahayakan negara, tetapi bisa memecah belah rakyat," ucapnya.
Hendri juga mengatakan, buzzer-buzzer pendorong orang untuk membenci manusia satu sama lainnya yang paling menakutkan dan harus segera dihilangkan.
"Buzzer yang demikian harus dihilangkan. Itu kan mudah bagi pemerintah. Paling tidak segera dilakukan 'screening' terhadap buzzer dan mengajak semua pihak tidak menggunakan buzzer untuk kegiatan negatif," ujar pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI ini. 

@AriestaRiico juga menilai, bebebeapa peristiwa bom bunuh diri dikarenakan beberapa faktor. "Kenapa orang mau jadi pengebom bunuh diri, Diiming imingi masuk surga, lemahnya cara berpikir & masalah ekonomi," cuitnya.