Tersangka AJ (dua dari kanan) saat digelandang petugas ke ruang penyidikan UPPA Satreskrim Polres Malang lantaran kasus persetubuhan anak kandung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Tersangka AJ (dua dari kanan) saat digelandang petugas ke ruang penyidikan UPPA Satreskrim Polres Malang lantaran kasus persetubuhan anak kandung (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tersangka AJ mengaku geram setelah mengetahui ternyata anak kandungnya sudah tidak perawan lagi. Atas dasar itulah, yang juga membuat warga asli Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan ini gelap mata dan nekat menyetubuhi putri kandungnya sebanyak 9 kali.

”Persetubuhan itu saya lakukan atas dasar suka, saya suka sama anak saya. Apalagi pas tau kalau dia (korban) sudah tidak perawan lagi. Saya jadi kepikiran untuk menyetubuhinya,” kata tersangka AJ saat ditemui awak media sebelum sesi rilis di halaman Satreskrim Polres Malang dimulai, Rabu (13/11/2019) sore.

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Seperti yang diberitakan sebelumnya, tersangka AJ diringkus polisi pada Selasa (5/11/2019) lalu. Ketika itu, petugas gabungan dari Polsek Lawang dan UPPA (Unit Pelayanan Perempuan dan Anak) Unit Reskrim Polres Malang meringkus AJ saat dirinya hendak menyetubuhi putri kandungnya, di sebuah losmen yang ada di Kecamatan Lawang.

Di hadapan petugas, pria 42 tahun itu mengaku sudah menyetubuhi putri kandungnya sebanyak 9 kali. Sebut saja korbannya bernama Jelita (bukan nama sebenarnya).

Aksi tidak bermoral itu terjadi sejak tahun 2018 hingga bulan November 2019. Tepatnya setelah dinyatakan bebas usai menjalani masa hukuman penjara di wilayah Polres Pasuruan pada 2018 lalu. Seorang residivis kasus pencurian dan sajam (senjata tajam) ini, nekat menyetubuhi putri kandungnya tersebut.

Jika menolak, Jelita diancam akan disakiti serta tidak akan direstui saat korban ingin menikah. Takut jika tersakiti dan ayahnya tidak mau menjadi wali nikah, remaja 14 tahun itu akhirnya terpaksa meladeni permintaan nyeleneh sang ayah.

Dari 9 kali aksi persetubuhan itu terjadi, 5 di antaranya dilakukan tersangka AJ di penginapan yang ada di wilayah Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Sedangkan 2 di antaranya terjadi di rumah tersangka saat istri AJ tertidur pulas. Sisanya, yakni 2 kasus di antaranya terjadi di sebuah losmen yang berlokasi di Kecamatan Lawang.

”Selama ini, istri tidak tahu kalau saya sering menyetubuhi dia (korban),” kata tersangka AJ yang pernah menikah selama 2 kali ini, saat dicecar pertanyaan oleh awak media.

Setiap ingin menyalurkan nafsunya, lanjut AJ, dirinya tidak segan menjemput Jelita di tempat kerjanya. Perlu diketahui, selama ini korban bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah makan yang ada di wilayah Pasuruan.

”Setelah saya jemput di tempat kerjaannya, dia (korban) saya ajak ke Tretes. Kalau tidak ya ke losmen yang ada di Lawang,” terang pria yang kesehariannya bekerja sebagai tukang ojek pangkalan ini.

Baca Juga : Pelaku Pencabulan di Jatimulyo Disebut Punya Kelainan Seks terhadap Anak

Kebiasaan buruk itu tidak selalu dilakukan AJ di luar rumah. Bahkan jika sedang “nyut” tersangka juga pernah mengajak putrinya untuk meladeni nafsu birahinya di dalam rumah. Modusnya adalah menunggu sang ibu tiri korban tertidur, kemudian AJ akan menggagahi Jelita di ruang kamar yang berjauhan dari tempat tidur istrinya.

”Kalau gituan di rumah ya nunggu istri saya tidur. Tapi pas di Tretes dan losmen yang ada di Lawang saya lakukan diam-diam, saya tidak pernah izin ke istri pas bawa anak saya ke sana (tretes dan losmen),” terang pria yang dikaruniai satu orang putra dan satu anak perempuan ini.

Jika tidak sempat melakukan hubungan badan dengan anak bungsunya, AJ mengaku menyewa PSK (Pekerja Seks Komersial) demi memenuhi kebutuhan biologisnya tersebut.

”Meski sudah 9 kali saya setubuhi, tapi dia (korban) tidak sampai hamil,” celetuk tersangka AJ yang wajahnya dipenuhi tato tersebut.

Akibat perbuatannya, AJ kini harus meringkuk di sel tahanan Mapolres Malang. Pria yang berusia lebih dari kepala 4 itu, dijerat pihak kepolisian dengan pasal 81 juncto pasal 76 D dan pasal 82 juncto 76 E nomor 35 tahun 2014, tentang perlindungan anak dan kekerasan serta persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Sedangkan ancamannya kurungan penjara maksimal 20 tahun.