Ilustrasi serbuan hoax yang diharapkan masyarakat bisa ditangkal lewat dunia pendidikan (Ist)
Ilustrasi serbuan hoax yang diharapkan masyarakat bisa ditangkal lewat dunia pendidikan (Ist)

MALANGTIMES - Nadiem Makarim terus jadi perbincangan sejak dirinya diangkat menjadi Menteri Pendidikan RI.

Pro dan kontra masyarakat umum maupun praktisi pendidikan atas Nadiem, masih terjadi.

Baca Juga : Belajar dari Rumah Lewat TVRI Mulai Hari Ini, Intip Jadwalnya Yuk!

Bukan hanya latar belakang Nadiem saja yang dipersoalkan, tapi langkah ke depan dalam menghadapi berbagai persoalan melalui dunia pendidikan. 

Salah satunya adalah mengenai penyebaran hoax yang jadi musuh bersama bangsa dan negara Indonesia saat ini.

Menurut survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terkait hoax, terdapat tiga isu utama yang masih terus bergentayangan di dalam masyarakat. 

Yakni, kebangkitan komunis/PKI, kriminalisasi ulama dan isu jutaan pekerja dari Tiongkok.

Tiga isu utama hoax inilah yang diharapkan masyarakat untuk dikikis lewat sekolahan.

Tentunya, pada Nadiem harapan itu disandarkan.

Dimana, masyarakat berharap Indonesia bisa seperti negara Finlandia dan Denmark yang sukses menangkal hoax lewat pendidikan.

Tapi, berbeda dengan apa yang disampaikan oleh salah satu pelajar yang mencurahkan kegelisahannya kepada Nadiem. 

Bukan hanya 3 isu utama yang masih jadi narasi hoax sampai saat ini yang disampaikan. 

Tapi, lebih pada bagaimana Nadiem mampu menciptakan kondisi belajar mengajar di berbagai sekolahan yang setara antara guru dan siswanya. Termasuk terkait kurikulum pendidikan yang sampai saat ini juga, menurut pelajar dengan akun @mahameru_sdw, wajib diperbaiki.

Bukan sekadar fokus pada bagaimana literasi digital bisa dijadikan kurikulum dan kunci keberhasilan melawan hoax di dunia pendidikan.

Walaupun literasi digital jadi harapan dan keniscayaan di era revolusi industri 4.0 dalam menghadapi serangan hoax yang terus lahir.

Seperti tiga isu utama dalam hoax yang sebenarnya telah begitu lama berkembang dan hidup dalam masyarakat.

Baca Juga : Siswa yang Tak Punya Akses Internet Mulai Senin Belajar Lewat TVRI

“Tenaga pendidikan dan kurikulum harus diperbaiki, saya sebagai pelajar sering melihat ketidakadilan di depan mata, saya waktu itu kesiangan dan di maki maki oleh guru, sedangkan ada anak guru yang kesiangan dibiarkan masuk begitu saja dan itu disaksikan langsung oleh teman saya, PR yang menumpuk sehingga kami tidak bisa mencari ilmu melalui media lain yaitu buku dan sebagainya. Ada kejadian waktu itu saat pelajaran sejarah, saya ingin mencoba meluruskan materi yang salah dan mencoba diskusi dengan guru tersebut, namun saya tidak dihargai dan dianggap menentang atau melawan, saya jadi malas sekolah karena kelakuan guru guru di sekolah saya, murid mesti menyesuaikan dengan karakter guru. Kami harus selalu mengangguk tidak peduli itu benar atau salah,” curhat pelajar dengan akun @mahameru_sdw.

“Banyak karakter murid yang dihancurkan, guru sering berbicara dan menasihati kami yang baik baik, namun kelakuan mereka sebaliknya, mereka lebih diskriminatif dan stereotipe. Tolong bantulah generasi kami, hal hal yang tidak adil sudah dianggap biasa saja oleh para murid, mereka tidak berani menentang, jangankan menentang bertanyapun murid tidak berani karena takut diberi julukan anak bandel oleh guru guru,” lanjut @mahameru_sdw.

Curhat itu, sekilas tak berhubungan dengan ancaman hoax yang juga menyerbu dunia pendidikan saat ini. Tapi, curhat itu memperlihatkan masih adanya pekerjaan berat bagi Nadiem, sebelum bergerak seperti yang diharapkan masyarakat dalam memperkuat literasi digital sebagai obat penangkal hoax melalui pendidikan. 

Yakni, terkait bagaimana mempersiapkan pola belajar mengajar setara, khususnya penguatan kepada tenaga pendidiknya di era seperti saat ini.

Akun @doevandz menuliskan, “kalau menurut saya berdasarkan pengalaman, sebaiknya selain dari segi kurikulum atau materi pendidikannya. Alangkah baiknya apabila dari segi tenaga pendidikannya ditingkatkan juga. Karena saya sering menyaksikan langsung (setidaknya dilingkungan saya), Para guru yang PNS ataupun yang bukan (lebih sering yang PNS) menyebarkan hoax dan agitasi kepada para peserta didik, baik secara pelan - pelan & didalam kelas, atau bahkan ditengah lapangan ketika menjadi inspektur upacara. Baik hoaks mengenai hal - hal yang trivial (kesehatan, perilaku sosial) ataupun hoaks mengenai politik terkini, sejarah, politik luar negeri, demografi, dsb.. Dan dari apa yang saya lihat, lumayan banyak peserta didik yang menganggap hoaks itu sebagai kebenaran dan termakan oleh agitasi dari oknum pendidik tersebut,” cuitnya.

Hal ini dibenarkan oleh @arie_hendrawan28 yang menyatakan, “tak akan bisa selama guru dan anak sama-sama nggak menciptakan kultur berpikir kritis,” cuitnya.

Terkait tiga isu utama hoax yang disandarkan bisa ditangkal lewat pendidikan yaitu melalui literasi digital, warganet lain pun memberikan komentarnya sebagai masukan bagi Nadiem.

@meesterhendra :”Dari kemaren wacananya literasi digital melulu. Literasi sains itu diperhatikan. Dan bukan cuma ilmu pengetahuan alam, tapi juga ilmu pengetahuan sosial dan filsafat,” ujarnya. Akun lainnya juga menyampaikan, “Mending fokus ningkatin literasi siswa di Indonesia, karena minat baca kita jg termasuk peringkat bawah. Siswa lebih suka baca status medsos daripada baca buku,” tulis @dzaki_am

@irghalim juga menyebutkan, bahwa isu utama hoax yang sebenarnya terbilang lawas itu akan tetap langgeng, dikarenakan berbagai faktor yang hidup sampai saat ini. 

“Hoax yg berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup seseorang akan langgeng. Pki begitu terstigmatisasi sbg golongan yg mematikan menyebabkan isu kebangkitannya sangat diantisipasi. Lalu, ditengah kelangkaan ketersediaan lapangan kerja, upah buruh yg minim, dan kesenangan ekonomi yg tinggi menyebabkan kabar pekerja asing begitu menakutkan. Mau makan apa mereka besok kalau pekerjaan direbut?. Singkat kata, pendidikan tidak cukup harus juga merangkul dinas sosial dalam menengahi kasus hoax,” cuitnya.